MAKALAH
PSIKOLOGI
PEMBACA
Makalah ini Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Psikologi Sastra
Dosen Pengampu: Dr. M Bayu Firmansyah, M.Pd
Disusun Oleh:
1)
Afiqo Fauziah (23188201002)
2)
Alfiyyah Nur Winda (23188201005)
3)
Hajar Said Syamlan (23188201017)
4)
Husnul Hotimah (23188201020)
5)
Lailatul Alfiah (23188201026)
6)
Miftachul Novianti (23188201031)
7)
M. Bagas Pratama (23188201034)
8)
Refa Fahreisy (23188201045)
9)
Siti Madinatul (23188201052)
10)
Zaida Kamilah Izzaty (23188201059)
Program
Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas
Pedagogi dan Psikologi
Universitas
PGRI Wiranegara
Mei 2025
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kami panjatkan atas hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan
nikmat, taufik, serta hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah
mata kuliah Belajar dan Pembelajaran ini tepat pada waktu.
Terima
kasih juga kami ucapkan kepada dosen pembimbing Dr. M Bayu Firmansyah, M.Pd
yang selalu memberikan dukungan dan bimbingannya. Makalah ini kami buat dengan
tujuan untuk memenuhi nilai tugas mata kuliah “Psikologi Sastra”. Tak hanya
itu, kami juga berharap makalah ini bisa bermanfaat untuk penulis pada
khususnya dan pembaca pada umumnya.
Walau
demikian, kami menyadari dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan.
Maka dari itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran untuk kesempurnaan
makalah ini. Kami berharap semoga makalah mata kuliah Psikologi Sastra ini bisa
memberikan informasi dan ilmu yang bermanfaat bagi kita semua. Kami juga
mengucapkan terima kasih kepada para pembaca yang telah membaca makalah ini
hingga akhir.
Pasuruan, 5 Mei 2025
DAFTAR ISI
2.2 Faktor-faktor Apa Saja yang Memengaruhi Respon Pembaca Terhadap Teks....... 4
ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pembelajaran sastra
merupakan bagian penting dalam pendidikan bahasa, karena tidak hanya mengasah
keterampilan berbahasa, tetapi juga membentuk kepekaan, imajinasi, dan empati
peserta didik. Dalam prosesnya, peserta didik diajak untuk membaca, menafsirkan,
dan merespons karya sastra dengan pemahaman yang mendalam. Namun, dalam
praktiknya, tidak semua siswa mampu mengapresiasi teks sastra secara optimal.
Hal ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kurangnya pengalaman
membaca, rendahnya keterlibatan emosional, atau terbatasnya kemampuan
mengaitkan teks dengan kehidupan pribadi. Oleh karena itu, diperlukan
pendekatan yang lebih manusiawi dan mendalam dalam memahami proses membaca
sastra salah satunya melalui kajian psikologi pembaca.
Psikologi pembaca
adalah bidang kajian yang mempelajari bagaimana proses mental dan emosional
pembaca bekerja saat berinteraksi dengan teks. Dalam konteks pembelajaran
sastra, pendekatan ini membantu guru memahami bahwa setiap peserta didik
membawa latar belakang, pengetahuan, pengalaman, dan emosi yang berbeda-beda
ketika membaca karya sastra. Respon pembaca terhadap teks tidak seragam, karena
sangat dipengaruhi oleh faktor internal seperti minat, motivasi, empati, dan
struktur kognitif, serta faktor eksternal seperti lingkungan belajar dan cara
penyampaian guru. Dengan memahami psikologi pembaca, pendidik dapat
mengembangkan strategi pembelajaran yang lebih inklusif dan berpusat pada
siswa, seperti diskusi terbuka, refleksi personal, atau pembacaan responsif
(reader-response approach).
Lebih jauh lagi,
pendekatan psikologi pembaca juga memberikan ruang bagi siswa untuk membangun
makna secara aktif, bukan sekadar menerima tafsir tunggal dari guru atau
penulis. Pendekatan ini selaras dengan tujuan pendidikan sastra yang menekankan
pada pembentukan karakter, pemikiran kritis, dan penghargaan terhadap
keberagaman perspektif. Melalui pemahaman ini, pembelajaran sastra tidak hanya
menjadi ajang pengenalan karya, tetapi juga menjadi ruang pembentukan identitas
dan pengembangan kepribadian melalui pengalaman estetis yang bermakna.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang tersebut, maka di rumuskan masalah sebagai berikut:
1) Apa yang dimaksud
dengan definisi psikologi pembaca dalam kajian literasi dan sastra? 2) Faktor-faktor apa saja yang
memengaruhi respon pembaca terhadap teks?
3)
Bagaimana emosi dan latar belakang
pembaca memengaruhi interpretasi terhadap karya sastra?
4)
Bagaimana Hubungan Antara Latar
Belakang Pembaca dan Pemaknaan Terhadap Isi Bacaan?
5)
Bagaimana perbedaan usia, jenis
kelamin, dan latar pendidikan mempengaruhi persepsi pembaca terhadap pesan
moral dalam karya sastra?
1.3 Tujuan
Berdasarkan
rumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1)
Untuk mengetahui yang dimaksud
dengan definisi psikologi pembaca dalam kajian literasi dan sastra.
2)
Untuk mengetahui faktor apa saja
yang memengaruhi respon pembaca terhadap teks.
3)
Untuk mengetahui bagaimana emosi
dan latar belakang pembaca memengaruhi interpretasi terhadap karya sastra.
4)
Untuk mengetahui bagaimana
hubungan antara latar belakang pembaca dan pemaknaan terhadap isi bacaan.
5)
Untuk mengetahui bagaimana
perbedaan usia, jenis kelamin, dan latar pendidikan mempengaruhi persepsi
pembaca terhadap pesan moral dalam karya sastra.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Apa yang Dimaksud dengan
Definisi Psikologi Pembaca dalam Kajian Literasi dan
Sastra
Psikologi pembaca
merupakan salah satu jenis kajian psikologi sastra yang memfokuskan pada
pembaca, yang ketika membaca dan menginterpretasikan karya sastra mengalami
berbagai situasi kejiwaan. Yang menjadi objek kajian dalam psikologi pembaca
adalah pembaca yang secara nyata membaca, menghayati, dan menginterpretasikan
karya sastra. Sebagai manusia yang memiliki aspek kejiwaan, maka ketika
membaca, menghayati, dan menginterpretasikan karya sastra yang dibacanya,
pembaca akan mengadakan interaksi dan dialog dengan karya sastra yang
dibacanya. Karena memiliki jiwa, dengan berbagai rupa emosi dan rasa, maka
ketika membaca sebuah novel atau menonton sebuah pementasan drama, kita sangat
mungkin ikut bersedih, gembira, jengkel, bahkan juga menangis karena tersentuh
oleh pengalaman tokohtokoh fiktif.
Seperti dikemukakan
oleh Iser dalam Wiyatmi (2011:57), bahwa suatu karya sastra akan menimbulkan
kesan tertentu pada pembaca. Kesan ini didapat melalui “hakikat” yang ada pada
karya itu yang dibaca oleh pembacanya. Dalam proses pembacaan ini aka ada interaksi
antara hakikat karya itu dengan “teks luar” yang mungkin memberikan kaidah yang
berbeda. Bahkan dapat dikatakan bahwa kaidah dan nilai teks luar akan sangat
menentukan kesan yang akan muncul pada seseorang sewaktu membaca sebuah teks,
karena fenomena ini akan menentukan imajinasi pembaca dalam membaca teks itu.
Psikologi pembaca
adalah cabang dari kajian psikologi sastra yang menitikberatkan pada pengalaman
kejiwaan pembaca ketika mereka berinteraksi dengan karya sastra. Fokus utama
dari kajian ini adalah bagaimana pembaca mengalami, merasakan, serta memberikan
interpretasi terhadap teks sastra yang mereka baca. Berbeda dengan pendekatan
lain dalam sastra yang mungkin lebih menitikberatkan pada pengarang atau isi
teks, psikologi pembaca melihat pembaca sebagai subjek utama yang aktif.
Artinya, pembaca tidak hanya menerima informasi secara pasif, tetapi juga
terlibat dalam proses emosional dan mental selama membaca. Ketika membaca
sebuah novel, cerpen, atau menonton pementasan drama, pembaca sering kali
merasakan berbagai emosi seperti sedih, gembira, marah, jengkel, bahkan sampai
menangis.
Hal ini terjadi karena
pembaca memiliki latar belakang pengalaman, emosi, dan jiwa yang memungkinkan
mereka untuk “berdialog” secara batiniah dengan karya sastra tersebut.
Wolfgang Iser
(1979), seorang tokoh penting dalam teori resepsi sastra, menyatakan bahwa
sebuah karya sastra tidak akan memiliki makna yang tetap tanpa adanya pembaca.
Menurutnya, makna dari sebuah karya muncul melalui interaksi antara teks (yang
disebut sebagai “hakikat karya”) dengan pembaca, yang membawa serta pengalaman,
pengetahuan, nilai-nilai, serta harapan mereka sendiri (disebut sebagai “teks
luar”).
Dalam interaksi
ini, pembaca bukan hanya memahami apa yang tertulis secara literal, tetapi juga
menciptakan imajinasi dan penafsiran yang dipengaruhi oleh latar belakang
pribadi mereka. Misalnya, dua orang yang membaca novel yang sama bisa memiliki
kesan yang sangat berbeda karena mereka berasal dari budaya, pendidikan, dan
pengalaman hidup yang berbeda pula. Oleh karena itu, kesan atau makna yang
muncul dari suatu karya sastra tidak hanya bergantung pada isi teksnya saja,
tetapi juga pada persepsi dan respons psikologis pembacanya.
Dengan kata lain,
dalam psikologi pembaca, pembaca diposisikan sebagai subjek aktif yang berperan
besar dalam membentuk makna teks sastra. Proses ini menjadikan karya sastra
sebagai pengalaman yang unik dan personal bagi setiap individu yang membacanya.
2.2 Faktor-faktor Apa Saja yang Memengaruhi Respon
Pembaca Terhadap Teks
Sebagai hasil dari
proses belajar, kemampuan memahami bacaan dipengaruhi oleh sejumlah faktor.
Setidaknya terdapat tiga aspek utama yang memengaruhi pemahaman bacaan, yaitu
karakteristik pembaca, karakteristik teks bacaan, dan kondisi lingkungan.
Faktor pertama yang memiliki pengaruh besar terhadap pemahaman bacaan adalah
karakteristik individu pembaca itu sendiri. Hal ini sejalan dengan pendapat
Just dan rekan-rekannya (1982), yang menyatakan bahwa dalam proses memahami
bacaan, terdapat banyak perbedaan individu yang memengaruhi cara seseorang
memproses informasi dari teks yang dibaca.
1)
Karakteristik Pembaca
Terdapat beberapa
aspek dalam karakteristik pembaca yang berpengaruh terhadap kemampuan memahami
bacaan. Aspek pertama adalah pengalaman pembaca terhadap isi teks yang dibaca.
Menurut Otto dan rekan-rekannya (1979), tingkat keterbiasaan pembaca terhadap konsep-konsep
dan kosakata dalam teks sangat memengaruhi pemahaman mereka. Hal ini juga
didukung oleh Heilman dan koleganya (1981) yang menyatakan bahwa pemahaman
bacaan dipengaruhi oleh latar belakang pengetahuan konseptual serta tingkat
penguasaan kosakata yang dimiliki pembaca. Selain itu, Rumehalt (dalam Flood
dan Salus, 1984) menegaskan bahwa proses pengolahan teks juga bergantung pada
pengetahuan pembaca tentang sintaksis, semantik, ortografi, dan leksikal.
Aspek kedua adalah
kemampuan pembaca dalam merespon bahasa tulis dengan pemahaman dan pemikiran
yang mendalam. Heilman dan timnya (1981) menekankan pentingnya kemampuan ini,
sedangkan Otto dan rekan-rekannya (1979) menyebutnya sebagai keterampilan
dekoding—yakni kemampuan dalam mengubah simbol-simbol tulisan menjadi makna
yang dapat dipahami. Dalam keterampilan ini, daya imajinasi atau imagery juga
berperan penting. Peran imagery dalam meningkatkan pemahaman bacaan turut
dibuktikan dalam penelitian oleh Solomon (dalam Hayes dkk., 1986).
Aspek ketiga adalah
tujuan membaca yang ditetapkan oleh pembaca. Seseorang yang membaca hanya untuk
mengetahui inti teks secara umum akan memiliki tingkat pemahaman yang berbeda
dibandingkan dengan pembaca yang sejak awal bertujuan untuk memahami isi teks
secara mendalam. Perbedaan dalam tujuan ini menyebabkan adanya perbedaan pula
dalam usaha dan strategi yang dilakukan oleh masing-masing pembaca.
Selain aspek-aspek
kognitif, faktor emosional juga turut memengaruhi pemahaman bacaan. Ellis dan
rekan-rekannya (1997), dalam sebuah penelitian eksperimental, menemukan bahwa
suasana hati yang negatif dapat menurunkan kemampuan seseorang dalam memahami isi
bacaan. Terakhir, sikap pembaca terhadap aktivitas membaca juga memiliki peran
penting. Pembaca yang menganggap membaca hanya sebagai kegiatan mengeja
huruf-huruf akan memiliki pemahaman yang berbeda dengan pembaca yang melihat
membaca sebagai sarana untuk memperoleh pengetahuan baru (Otto dkk., 1979).
2)
Karakteristik Bacaan
Faktor kedua yang
memengaruhi pemahaman bacaan adalah karakteristik teks itu sendiri. Berbagai
penelitian menunjukkan bahwa teks yang lebih mudah dipahami cenderung
mengandung konsep, kosakata, tata kalimat, istilah teknis, dan pengertian yang
sudah familiar bagi pembaca (Otto dkk., 1979). Misalnya, seorang ahli biologi
akan lebih mudah memahami teks yang berisi istilah seperti pelvic (panggul),
renal(ginjal), dan hepar (hati), sedangkan seorang ahli geofisika lebih mudah
memahami teks dengan istilah seperti gravity (gaya tarik bumi) atau contour
line (garis kontur).
Agar bacaan lebih
mudah dipahami, teks juga perlu dapat merangsang pembaca untuk mengaitkan
informasi dengan pengalaman masa lalunya yang relevan. Selain itu, teks harus
memudahkan proses dekoding agar pembaca bisa memahami dengan lebih cepat. Salah
satu cara untuk memudahkan dekoding adalah dengan menyusun ide-ide dalam teks
yang saling terhubung dengan kuat (Siu, 1986). Bacaan yang dapat merangsang
imajinasi pembaca, seperti yang disertai dengan ilustrasi atau penjelasan
visual, juga akan lebih mudah dipahami (Glover dkk., 1985).
Artinya
karakteristik teks berperan besar dalam memengaruhi pemahaman bacaan. Teks yang
mudah dipahami biasanya mengandung kosakata, konsep, dan istilah yang familiar
bagi pembaca. Misalnya, seorang ahli biologi lebih mudah memahami teks yang
berisi istilah seperti pelvic (panggul), sedangkan seorang ahli geofisika lebih
mudah memahami istilah seperti gravity(gaya tarik bumi). Selain itu, bacaan
yang dapat menghubungkan pengalaman masa lalu pembaca dan memudahkan dekoding
akan lebih mudah dipahami. Teks juga harus memiliki ide-ide yang saling terkait
dengan kuat dan dapat merangsang imajinasi pembaca, misalnya melalui ilustrasi
atau penggambaran visual.
3)
Faktor lingkungan
Faktor ketiga yang
memengaruhi pemahaman bacaan adalah faktor lingkungan, yang meliputi faktor
sosial dan non-sosial. Faktor sosial mencakup gangguan dari orang-orang di
sekitar pembaca, sementara faktor non-sosial mencakup kondisi seperti suhu,
cuaca, dan suara. Sebagai contoh, dalam eksperimen Lukito (1993), dua jenis
musik - musik rock dan musik klasik Jawa diperdengarkan selama aktivitas
membaca. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua jenis musik tersebut
berdampak negatif terhadap pemahaman bacaan, karena musik yang didengar
mengganggu jejak memori yang terkait dengan bacaan yang sedang diproses oleh
otak.
Pemahaman membaca
dipengaruhi oleh berbagai faktor, karena setiap individu bisa menafsirkan
bacaan yang sama secara berbeda. Salah satu penyebabnya adalah kurikulum Bahasa
Indonesia yang belum sepenuhnya menekankan pada aspek pemahaman bacaan. Pada
jenjang kelas rendah, pembelajaran membaca lebih difokuskan pada pengenalan
teks (Rahim, 2007), bukan pada pendalaman isi teks itu sendiri. Just dan
rekan-rekannya (1982) juga mengemukakan bahwa terdapat banyak perbedaan
individu dalam proses memahami bacaan, yang memengaruhi cara seseorang
memproses informasi dari teks.
Selain itu,
perkembangan arus informasi yang sangat cepat dan meningkatnya kesibukan
manusia mengakibatkan waktu untuk membaca menjadi semakin terbatas (Saddhono
& Slamet, 2014:98). Farida Rahim (2008:16) menyatakan bahwa kemampuan
memahami bacaan dipengaruhi oleh empat faktor utama, yaitu faktor fisiologis,
intelektual, lingkungan, dan psikologis. Faktor fisiologis mencakup kondisi
kesehatan fisik, aspek neurologis, jenis kelamin, serta tingkat kelelahan.
Masalah pada alat bicara, pendengaran, maupun penglihatan juga dapat menghambat
proses belajar anak. Meskipun terdapat hubungan positif antara tingkat
kecerdasan dan kemampuan membaca, tidak semua individu dengan intelegensi
tinggi otomatis menjadi pembaca yang baik. Faktor lingkungan, seperti latar
belakang keluarga dan kondisi sosial ekonomi, juga turut memengaruhi kemampuan
membaca seseorang.
Pemahaman singkat
dari kutipan tersebut adalah bahwa kemampuan memahami bacaan dipengaruhi oleh
berbagai faktor, seperti kurikulum yang belum menekankan pemahaman teks,
perbedaan individu dalam memproses informasi, keterbatasan waktu akibat
kesibukan, serta faktor fisiologis, intelektual, lingkungan, dan psikologis.
Setiap orang dapat menafsirkan bacaan dengan cara yang berbeda tergantung pada
kondisi dan latar belakangnya.
2.3 Bagaimana emosi dan latar
belakang pembaca memengaruhi interpretasi terhadap karya sastra
Dalam kajian
psikologi pembaca, emosi dan latar belakang pembaca merupakan dua faktor utama
yang membentuk cara seseorang menafsirkan karya sastra. Setiap pembaca datang
dengan pengalaman hidup, nilai-nilai budaya, kondisi psikologis, serta keadaan
sosial yang berbeda-beda. Oleh karena itu, respons terhadap teks sastra tidak
bersifat seragam, melainkan personal dan subjektif.
Suwardi Endraswara
(2008:158) menyatakan bahwa “resepsi adalah penerimaan, dan penerimaan sastra
oleh pembaca bisa berbeda-beda tafsirnya.” Ini artinya, interpretasi yang
muncul dari proses membaca sangat dipengaruhi oleh kondisi psikologis dan
pengalaman pembaca sebelumnya. Ketika pembaca sedang berada dalam kondisi
emosional tertentu— seperti sedih, gembira, marah, atau rindu—pengalaman
membaca akan menjadi cermin dari emosi tersebut. Endraswara (2008:155) juga
menambahkan bahwa: “Dengan modal kejiwaan, karya sastra akan meresap secara
halus dalam diri pembaca. Nilai-nilai dalam sastra yang membentuk sikap dan
perilaku akan diinternalisasikan dalam diri pembaca.
Hal ini menunjukkan
bahwa pembaca bukan hanya sebagai penyimak pasif, melainkan sebagai subjek
aktif yang menciptakan makna berdasarkan emosi dan latar belakang yang ia
miliki. Oleh karena itu, dua orang pembaca yang membaca teks yang sama bisa
menghasilkan pemaknaan yang sangat berbeda, tergantung pada kondisi psikis dan
pengalaman hidup mereka masing-masing. Wiyatmi (2011:57) mengungkapkan bahwa:
“Seorang pembaca tidak pernah datang kepada teks dalam keadaan netral. Ia
membawa serta latar belakang, pengalaman, dan sistem nilai yang akan
memengaruhi cara ia menafsirkan isi teks.”
Pendapat ini
menegaskan bahwa karya sastra bukan sekadar teks objektif, melainkan ladang
tafsir yang terbuka untuk berbagai kemungkinan interpretasi. Maka, pemahaman
terhadap sebuah karya sastra adalah hasil interaksi antara teks dan pengalaman
pembaca yang bersifat personal. Wolfgang Iser, salah satu tokoh teori resepsi
dari luar negeri, juga menegaskan bahwa: “Teks sastra bersifat ‘tidak lengkap’
tanpa keberadaan pembaca, karena makna muncul dari hubungan antara teks dan
struktur harapan pembaca” (Iser, 1979:34).
Struktur harapan
ini terbentuk dari pengalaman, budaya, dan pengetahuan pembaca yang sudah ada
sebelumnya. Dengan demikian, makna bukanlah sesuatu yang tinggal dibaca,
melainkan sesuatu yang harus diciptakan melalui proses kognitif dan emosional.
Farida Rahim
(2008:16) juga menjelaskan bahwa pemahaman bacaan dipengaruhi oleh empat faktor
utama, yaitu: fisiologis, intelektual, lingkungan, dan psikologis. Faktor
psikologis yang mencakup suasana hati, motivasi, dan minat baca memiliki peran
penting dalam memengaruhi bagaimana pembaca merespons teks. Pembaca yang sedang
berada dalam suasana hati buruk, misalnya, akan cenderung memberikan tafsir
yang negatif terhadap peristiwa dalam cerita.
Dalam penelitian
lain, Ellis et al. (1997) menunjukkan bahwa suasana hati negatif dapat
menurunkan kemampuan memahami teks karena mengganggu fokus dan keterlibatan
emosional. Artinya, kondisi emosional pembaca dapat mempersempit atau
memperluas ruang interpretasi yang mereka bangun terhadap isi bacaan.
Pengaruh emosi
dalam proses membaca, baik pada tingkat kata maupun kalimat, dapat memengaruhi
pembaca. Dampak emosional ini lebih bergantung pada pengalaman pribadi individu
daripada pada makna afektif umum dari kata atau kalimat tersebut (Silva, 2015).
Dari latar belakang
tersebut, dapat disimpulkan bahwa membaca karya sastra, khususnya novel,
melibatkan aspek emosional dari pembaca, baik saat mereka membaca untuk
memberikan penilaian maupun ketika sekadar menikmati isi karya tersebut.
Aktivitas membaca sastra, seperti novel, memang menuntut keterlibatan emosi
pembaca, baik dalam konteks evaluatif maupun apresiatif.
Oleh karena itu,
pengembangan instrumen yang mampu mengukur emosi pembaca dapat digunakan untuk
mengetahui respon emosional terhadap bacaan sekaligus menilai kualitas suatu
karya, terutama bagi mereka yang mendalami sastra prosa seperti novel dan
cerpen, dengan pendekatan berbasis emosi sebagai bentuk penghargaan terhadap
karya sastra.
Diharapkan,
instrumen penilaian emosi dalam membaca karya sastra ini dapat meningkatkan
kemampuan pembaca dalam memahami dan menilai mutu karya sastra, serta
memberikan kontribusi positif bagi perkembangan sastra, baik dalam bentuk novel
maupun bentuk prosa lainnya seperti cerpen.
Secara keseluruhan,
pendekatan psikologi pembaca menekankan pentingnya subyektivitas dan latar
belakang individu dalam membentuk makna sastra. Seorang pembaca dari kalangan
pesantren mungkin akan menafsirkan novel Hujan Bulan Juni sebagai kisah tragis
cinta beda agama yang harus dikorbankan demi keyakinan, sementara pembaca dari
latar plural mungkin melihatnya sebagai perjuangan cinta lintas budaya yang
harus dilawan dengan rasionalitas dan kompromi.
Dengan demikian,
proses pembacaan karya sastra menjadi pengalaman psikologis yang kompleks dan
beragam, yang tidak bisa dilepaskan dari siapa pembacanya, bagaimana kondisi
emosinya, serta apa nilai-nilai yang ia yakini dalam hidup.
Kecerdasan emosi
adalah kemampuan untuk mengenali, mengelola, dan mengekspresikan emosi dengan
tepat dan efektif. Sastra dapat membantu membangun kecerdasan emosi dengan cara
yang beragam. Berikut beberapa cara bagaimana sastra dapat membantu membangun kecerdasan
emosi:
1)
Menumbuhkan empati: Sastra dapat
membantu menumbuhkan empati dengan memperlihatkan berbagai macam sudut pandang
dan pengalaman yang berbeda. Melalui membaca karya sastra, pembaca dapat
melihat dunia dari perspektif orang lain dan mengembangkan kemampuan untuk
memahami perasaan dan sudut pandang orang lain.
2)
Mengasah keterampilan berpikir
kritis: Sastra sering kali menyajikan tema kompleks yang memerlukan pemikiran
kritis dan refleksi. Dengan membaca karya sastra, pembaca akan diajak untuk
mempertanyakan, menganalisis, dan mengevaluasi makna dari karya tersebut. Hal
ini dapat membantu memperbaiki kemampuan berpikir kritis dan menganalisis suatu
situasi atau perasaan.
3)
Meningkatkan kemampuan komunikasi:
Sastra dapat membantu meningkatkan kemampuan komunikasi dengan memperluas
kosakata dan keterampilan bahasa. Selain itu, karya sastra juga dapat membantu
meningkatkan kemampuan untuk mengungkapkan emosi dengan tepat dan efektif.
4)
Memperkuat daya tahan emosional:
Karya sastra seringkali menggambarkan perjuangan dan tantangan yang dihadapi
oleh tokoh-tokoh di dalamnya. Melalui membaca karya sastra, pembaca dapat
belajar bagaimana tokoh-tokoh tersebut mengatasi masalah dan tantangan yang
mereka hadapi. Hal ini dapat membantu memperkuat daya tahan emosional seseorang
dalam menghadapi masalah dalam kehidupan sehari-hari. (Jatmikanurhadi,2023)
Di dunia kesusastraan tentu sudah tidak asing
dengan apa itu psikologi pengarang, dan psikologi pembaca. Pengarang merupakan
sebutan untuk orang yang menciptakan karya tulis rekaan berdasarkan imajinasi
atau fantasinya, seperti cerita pendek atau cerpen, novel. Dalam proses
penciptaan suatu karya tentu tidak lepas dari yang namanya psikologi pengarang,
psikologi pengarang sendiri merupakan suatu aspek kejiwaan dari pengarang yang
berkaitan dengan proses lahirnya suatu karya sastra.
Begitu
pula dengan psikologi pembaca, psikologi pembaca merupakan aspek kejiwaan
pembaca. Sebagai manusia yang memiliki aspek kejiwaan, maka ketika membaca,
menghayati, dan menginterpretasikan karya
sastra yang dibacanya, pembaca akan mengadakan interaksi dan dialog
dengan karya sastra yang dibacanya. Pengarang dalam proses pembuatan suatu
karya sastra tentunya keadaan psikologisnya akan sangat berpengaruh dengan apa
yang ditulis, di mana emosi yang sedang dirasakan, renungan, suara bawah sadar
pengarang serta khayalan atau imajinasinya , dan persepsi - persepsi pikiran
pengarang dari kejiwaannya, semua akan tertuang di dalam karyanya.
2.4 Bagaimana Hubungan Antara Latar Belakang Pembaca
dan Pemaknaan Terhadap Isi Bacaan
Resepsi sastra
dimaksudkan bagaimana “pembaca” memberikan makna terhadap karya sastra yang
dibacanya, sehingga dapat memberikan reaksi atau tanggapan terhadapnya. Yaitu
bagaimana seorang pembaca dapat memahami karya itu (Junus, 1985:1). Dalam hal
ini, untuk memahami karya sastra pembaca harus teliti dengan isi yang
disampaikan oleh penulis. Kemudian Endraswara (2008:158) mengatakan bahwa
resepsi adalah penerimaan. Penerimaan sastra oleh pembaca bisa berbeda-beda
tafsirnya. Tafsir yang beragam dan plural, akan memperkaya pesan. Dalam sastra
ada sejumlah kode-kode psikologis yang bisa memunculkan presepsi lain. Tafsir
psikologi akan membangkitkan imajinasi yang berharga. Pembaca sering
berimajinasi lain ketika menyikapi karya sastra.
Kondisi kejiwaan
sastra akan berpengaruh pada efek pembaca. Dalam hal tersebut dapat dilihat
bahwa pengolahan teks dalam karya sastra yang disampaikan pengarang akan
memberikan pemahaman kepada pembaca tergantung dengan kondisi kejiwaan pembaca
sebelumnya. Sehingga kondisi kejiwaan pada pembaca akan menghasilkan dampak
yang berbeda-beda. Resepsi pembaca secara psikologi pasti akan terjadi.
Penerimaan nilai sastra biasanya justru berasal dari aspek psikologi. Dengan
modal kejiwaan, karya sastra akan meresap secara halus dalam diri pembaca. Oleh
sebab itu pembaca yang bagus tentu meladeni aspekaspek penting dalam sastra.
Nilai-nilai dalam sastra yang membentuk sikap dan perilaku, akan
diinternalisasikan dalam diri pembaca (Endraswara, 2008:155). Berdasarkan penjelasan
tersebut terlihat bahwa resepsi pembaca masuk ke dalam pembahasan psikologi
sastra.
Dalam pendekatan
psikologi pembaca, salah satu aspek penting yang memengaruhi proses
interpretasi karya sastra adalah latar belakang pembaca. Latar belakang ini
meliputi berbagai dimensi, seperti pengalaman hidup, tingkat pendidikan,
kondisi emosional, latar budaya, hingga nilai-nilai ideologis yang diyakini
pembaca. Semua faktor tersebut secara tidak langsung akan membentuk cara
seseorang dalam memahami dan memberi makna terhadap teks sastra yang dibaca.
Artinya, makna sebuah karya sastra tidak bersifat tunggal dan mutlak, melainkan
bisa berbeda-beda tergantung pada siapa yang membaca dan dalam konteks apa
pembacaan itu terjadi.
Suwardi Endraswara
(2008) dalam bukunya Metode Penelitian
Psikologi Sastra menekankan bahwa resepsi atau tanggapan pembaca terhadap
karya sastra sangat dipengaruhi oleh kondisi psikologis yang mereka miliki. Ia
menyatakan bahwa latar belakang kejiwaan pembaca sangat menentukan bagaimana
mereka menyerap nilai-nilai dalam karya sastra. Misalnya, seseorang yang sedang
mengalami kesedihan akan lebih mudah tersentuh oleh karyakarya bertema duka
atau kehilangan, dibandingkan pembaca yang sedang berada dalam kondisi
psikologis stabil atau bahagia. Endraswara menjelaskan bahwa proses membaca
sastra bukan hanya sekadar aktivitas intelektual, tetapi juga emosional. Oleh
karena itu, aspek psikologis pembaca menjadi kunci dalam membentuk pemaknaan
terhadap teks.
Hal serupa juga
dikemukakan oleh Wiyatmi (2011) yang menjelaskan bahwa pembaca tidak datang ke
teks dalam kondisi netral. Mereka membawa serta beban pengalaman dan preferensi
pribadi yang akan mewarnai interpretasi mereka terhadap bacaan. Ia menyatakan bahwa
pembaca akan menjalin komunikasi dan interaksi dengan teks, yang kemudian
menghasilkan reaksi kejiwaan tertentu. Proses ini sangat dipengaruhi oleh siapa
pembacanya dan apa yang pernah ia alami. Dengan kata lain, dua orang yang
membaca teks yang sama bisa saja menghasilkan makna yang sangat berbeda, karena
masing-masing memiliki latar belakang dan pengalaman yang tidak identik.
Dalam praktiknya,
pemahaman terhadap latar belakang pembaca juga penting dalam konteks penelitian
sastra, khususnya dalam pendekatan psikologi sastra. Misalnya, ketika seorang
peneliti hendak menelaah resepsi pembaca terhadap novel tertentu, maka ia juga
perlu menggali profil pembaca tersebut—mulai dari usia, pekerjaan, pendidikan,
hingga pengalaman hidup yang relevan. Semakin kompleks latar belakang pembaca,
semakin kompleks pula kemungkinan makna yang bisa mereka bentuk dari karya
sastra. Ini juga menjelaskan mengapa karya sastra yang sama bisa terus hidup
dan relevan lintas zaman, karena setiap generasi pembaca akan memberikan tafsir
yang sesuai dengan konteks dan kebutuhan zamannya masingmasing.
Dengan demikian,
pemaknaan terhadap teks sastra bukanlah hasil akhir yang tetap, melainkan
sebuah proses dinamis yang dipengaruhi oleh latar belakang psikologis dan
sosial pembaca. Dalam pendekatan psikologi pembaca, pembaca bukan sekadar objek
pasif yang menerima isi teks, melainkan subjek aktif yang ikut menciptakan
makna. Oleh karena itu, memahami siapa pembaca dan bagaimana latar belakang
mereka menjadi penting dalam membahas pemaknaan karya sastra secara lebih
menyeluruh.
2.5 Bagaimana perbedaan usia,
jenis kelamin, dan latar pendidikan mempengaruhi persepsi pembaca terhadap pesan moral dalam
karya sastra
Pemahaman
pembaca terhadap pesan moral dalam karya sastra sangat dipengaruhi oleh latar
belakang pribadi seperti usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan. Ketiga
faktor ini menentukan cara seseorang menafsirkan makna dan nilai-nilai moral
yang tersirat maupun tersurat dalam teks sastra. Usia memberikan kontribusi
terhadap tingkat kedewasaan berpikir dan kedalaman pengalaman. Pembaca muda
sering kali menangkap pesan moral secara langsung dan emosional karena
keterbatasan pengalaman hidup. Sementara itu, pembaca dewasa cenderung lebih
reflektif dan mampu memahami makna simbolik yang lebih dalam. Hal ini sejalan
dengan pendapat Nurgiyantoro (2010) yang menjelaskan bahwa pengalaman hidup
pembaca menjadi salah satu penentu dalam penafsiran makna karya sastra.
Jenis
kelamin juga memengaruhi respons pembaca terhadap pesan moral. Perempuan dan
laki-laki memiliki kecenderungan emosional dan sosial yang berbeda dalam
membaca teks. Perempuan biasanya lebih peka terhadap isu relasi, perasaan, dan
pengorbanan, sedangkan lakilaki lebih menaruh perhatian pada aspek rasional,
konflik, atau keadilan. Kecenderungan ini tampak dari hasil kajian sastra yang
menunjukkan adanya perbedaan minat bacaan dan cara memaknai antara laki-laki
dan perempuan (Semi, 2012).
Dari
sisi jenis kelamin, terdapat perbedaan kecenderungan dalam memaknai pesan
moral. Laki-laki umumnya lebih tertarik pada alur cerita dan konflik yang
logis, sementara perempuan lebih sensitif terhadap nilai-nilai emosional dan
hubungan antartokoh. Hal ini dijelaskan oleh Adi Iwan (2021) melalui kajiannya
terhadap pembaca pria novel Mariposa di platform Wattpad. Ia menemukan bahwa
pembaca laki-laki lebih fokus pada aspek struktural seperti alur dan tokoh,
sedangkan resepsi perempuan cenderung lebih emosional dan reflektif terhadap
nilai moral yang tersirat.
Latar
belakang pendidikan memberikan pembaca alat analisis dan wawasan yang lebih
luas. Semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin besar kemampuannya dalam
menafsirkan struktur naratif, simbol, dan pesan moral dalam karya sastra.
Pendidikan membentuk keterampilan berpikir kritis yang memungkinkan pembaca
menautkan isi teks dengan konteks sosial, historis, dan budaya. Sebagaimana
dijelaskan oleh Aminuddin (2013), tingkat pendidikan sangat berpengaruh
terhadap kedalaman pemahaman dan kemampuan apresiasi sastra seseorang.
Anak-anak
pada umumnya memahami pesan moral secara sederhana dan konkret, karena mereka
masih berada pada tahap perkembangan kognitif operasional konkret. Hal ini
dibuktikan oleh Enovia Sari dan Retno Rahayu (2020), yang dalam penelitiannya
menemukan bahwa siswa sekolah dasar lebih mudah menangkap nilai moral yang
disampaikan secara langsung dalam cerita anak. Sebaliknya, pembaca remaja dan
dewasa cenderung lebih kritis dan mampu menangkap makna moral yang bersifat
implisit dan kompleks.
Sementara
itu, latar belakang pendidikan juga berpengaruh signifikan terhadap persepsi
pembaca. Individu dengan pendidikan tinggi, terutama dalam bidang sastra atau
humaniora, cenderung memiliki pemahaman yang lebih mendalam terhadap pesan
moral dalam teks sastra. Mereka mampu mengaitkan pesan tersebut dengan konteks
sosial dan budaya yang lebih luas. Hal ini diungkapkan dalam penelitian oleh
Rita Nilawijaya dan Inawati (2020), yang menunjukkan bahwa mahasiswa dengan
latar belakang pendidikan sastra lebih mampu menafsirkan nilai moral dalam
novel Ayat-Ayat Cinta dibandingkan dengan mahasiswa dari jurusan lain.
Perbedaan
usia, jenis kelamin, dan latar belakang pendidikan memberikan pengaruh yang
cukup besar terhadap cara pembaca memahami pesan moral dalam karya sastra.
Usia, misalnya, berkaitan erat dengan tingkat kematangan kognitif dan
pengalaman hidup seseorang, yang pada akhirnya membentuk cara mereka
menafsirkan nilai-nilai moral dalam bacaan. Semakin dewasa seorang pembaca,
biasanya semakin dalam pula pemahamannya terhadap makna yang tersirat dalam
teks sastra. Selain itu, jenis kelamin turut mewarnai persepsi pembaca,
khususnya ketika karya sastra mengangkat tema-tema yang berkaitan dengan isu
gender. Representasi peran laki-laki dan perempuan dalam teks dapat direspons
berbeda oleh pembaca, tergantung pada pengalaman dan posisi sosial mereka.
Penelitian seperti yang dilakukan oleh Rosita (2018) terhadap novel Pride and
Prejudice menunjukkan bahwa pembaca laki-laki dan perempuan mungkin memiliki
interpretasi moral yang berbeda karena latar belakang gender mereka.
Sementara
itu, latar belakang pendidikan menentukan kemampuan seseorang dalam
menganalisis dan memahami isi bacaan secara kritis. Pendidikan yang lebih
tinggi umumnya memperkaya wawasan serta membentuk kerangka berpikir yang lebih
reflektif terhadap pesanpesan moral yang terkandung dalam karya sastra. Oleh
karena itu, dapat disimpulkan bahwa ketiga faktor tersebut berperan penting
dalam membentuk cara pembaca menginterpretasikan pesan moral, baik dari segi
kedalaman pemahaman, sudut pandang, maupun kemampuan analisis.
Dengan demikian, usia, jenis kelamin, dan
pendidikan bukan hanya atribut demografis, melainkan juga kunci penting dalam
proses pemaknaan pesan moral dalam sastra. Karya sastra yang sama bisa dimaknai
berbeda oleh pembaca yang berbeda latar belakangnya, menunjukkan bahwa sastra
hidup dan bernapas melalui pengalaman setiap pembacanya.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1)
Psikologi pembaca adalah cabang
dari psikologi sastra yang fokus pada pengalaman kejiwaan pembaca saat mereka
berinteraksi dengan teks sastra. Pembaca tidak hanya menerima informasi secara
pasif, tetapi juga terlibat secara emosional dan mental.
2)
Kemampuan memahami bacaan
dipengaruhi oleh sejumlah faktor yang saling terkait, antara lain karakteristik
pembaca, karakteristik teks, dan kondisi lingkungan. Karakteristik pembaca yang
meliputi pengalaman, keterampilan dekoding, tujuan membaca, serta faktor
emosional dan sikap terhadap membaca, memiliki peran penting dalam menentukan
sejauh mana pembaca dapat memahami teks.
3)
Kajian psikologi pembaca
menegaskan bahwa interpretasi terhadap karya sastra sangat dipengaruhi oleh
emosi dan latar belakang pembaca. Setiap individu membawa pengalaman hidup,
nilai budaya, suasana hati, dan kondisi psikologis yang unik, sehingga menciptakan
makna yang berbeda terhadap teks yang sama. Pembaca bukanlah penerima pasif,
melainkan subjek aktif yang membangun makna berdasarkan struktur harapan dan
keterlibatan emosionalnya.
4)
Pemaknaan terhadap karya sastra
sangat dipengaruhi oleh latar belakang pembaca, termasuk pengalaman hidup,
pengetahuan, dan kondisi kejiwaan mereka. Resepsi sastra akan bervariasi
tergantung pada bagaimana pembaca menginterpretasikan teks berdasarkan kode
psikologis yang ada dalam karya sastra tersebut. Kondisi psikologis pembaca
memengaruhi bagaimana mereka menafsirkan teks, yang akhirnya membentuk persepsi
yang berbeda terhadap karya sastra yang sama.
5)
Usia, jenis kelamin, dan
pendidikan bukan hanya atribut demografis, melainkan juga kunci penting dalam
proses pemaknaan pesan moral dalam sastra. Karya sastra yang sama bisa dimaknai
berbeda oleh pembaca yang berbeda latar belakangnya, menunjukkan bahwa sastra
hidup dan bernapas melalui pengalaman setiap pembacanya.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi,
2019. Psikologi Sastra, Pembaca, dan
Mumbo Jumbo. Widyawara. 16-17
Aminuddin.
(2013). Pengantar Apresiasi Karya Sastra.
Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Dina Atika
Putri Nainggolan, 2022. Analisis Resepsi
Sastra Novel Sang Pemimpi Karya Andrea Hirata.
Multiverse: Open Multidisciplinary Journal, 1(3),
45–50. https://doi.org/10.57251/multiverse.v1i3.753
Djoko
Sapardi.2015. Hujan Bulan Juni. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.(Novel) Endraswara, Suwardi.2008. Metode Penelitian
Psikologi Sastra: Yogyakarta. Mespress
Ellis,
H.C.,. 1997. Emotion, Motivation, and
Text Comprehension. Journal of Experimental Psychology:
General, 126 (2): 131-146.
Endraswara,
Suwardi. (2008). Metode Penelitian
Psikologi Sastra. Yogyakarta: MedPress.
Flood, J.
& Salus, P.H. 1984. Language and The
Language Arts. Englewood Cliffs: Prentice Halls, Inc.
Glover, N.
J., Bruning, P., & Filbeck, E. 1985. Educational
Psychology Principles and Application.
Boston: Little Brown Company.
Heilman, A. W., Blair, T.R., & Rupley, W.H. 1981. Principles and Practises in Teachin Reading.
Columbus, Ohio: Merril Publishing Company.
Hayes,
D.S., Kelly, S.B., & Mandel, M. 1986. Media
Differences in Children Story Sinopses: Radio and Television Contrasted.
Journal of Educational Psychology, 78, 341-346.
Iser,
wolfgang. 1979. The Act Of Reading.
Baltimore: John Hopskin. Jurnal.iambon
dan artikel view. https://jurnal.iainambon.ac.id/index.php/lingue/article/view/1176
Iser,
Wolfgang. (1979). The Act of Reading: A
Theory of Aesthetic Response. Baltimore: Johns Hopkins University Press.
Iwan, A.
(2021). Resepsi Pembaca Laki-laki
Terhadap Novel “Mariposa” di Wattpad. Anaphora: Jurnal Sastra, 4(1).
Kartika, E.
(2004). Memacu Minat Membaca Siswa
Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan Penabur (Nomor 03 tahun III). Hlm. 113128.
Lailatul
azizah, 2018. Makalah Bahasa Indonesia :
Psikologi Membaca
Lukito, T.
1993. Pengaruh Jenis Musik terhadap
Pemahaman Bacaan pada Siswa-siswa Kelas Satu SMA Muhammadiyah I.Yogyakarta:
Fakultas Psikologi UGM.
Lusy
Lutfiani, 2014. "Resepsi Sastra dan
Tafsir Psikologis," Elibrary Unikom, bab II. https://elibrary.unikom.ac.id/id/eprint/592/6/UNIKOM_LUSYI%20LUTFIANI_BAB%20II.pdf Nurgiyantoro,
Burhan. (2010). Teori Pengkajian Fiksi.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Nilawijaya,
R., & Inawati. (2020). Analisis
Resepsi Mahasiswa Terhadap Nilai Moral Dalam Novel Ayat-Ayat Cinta. Lentera: Jurnal Ilmu
Pendidikan, Bahasa dan Sastra, 3(2).
Otto, W.,
Rude, R., & Spiegel, D.L. 1979. How
To Teach Reading. Phillipines: Addison-Wesley Publishing Company, Inc.
Puji
Astuti.2019. Pengaruh Minat dan Kemampuan
Membaca Peserta Didik Dalam Memahami Teks Bacaan. Jurnal Kontekstual. Volume
01, No. 1, Agustus 2019, pp.26-32. Hal 27 – 28
Rahim,
Farida. (2008). Pengembangan Kemampuan
Membaca: Dari Teori ke Praktik.
Jakarta: Bumi Aksara.
Rosita, B.
(2018). Representasi Pesan Moral Novel
Pride and Prejudice Dalam Perspektif Gender
(Analisis Wacana Model Sara Mills). Skripsi Program Studi Ilmu
Komunikasi Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya.
Saddhono,
K., Slamet. (2014). Pembelajaran
Keterampilan Bahasa Indonesia: Teori dan Aplikasi Edisi
2. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Sari, E.,
& Rahayu, R. (2020). Penerimaan Anak
Terhadap Nilai Moral dalam Cerita Anak Indonesia.
Jurnal Borneo Saintek, 2(1).
Siswati,
2010. Minat Membaca Pada Mahasiswa (Studi
Deskriptif pada Mahasiswa Fakultas Semi, Atar. (2012). Metode Pengkajian Sastra. Bandung: Angkasa.
Psikologi UNDIP Semester I). Jurnal Psikologi UNDIP, 8 (2):
124-127.
Siu, P.K.
1986. Understanding Chinese Prose:
Effects of Number of Ideas, Metaphor, and Advanced Oganizers on Comprehension.
Journal of Educational Psychology, 78, 417-423.
Suyatmi.
2011. PSIKOLOGI SASTRA. Yogyakarta: Kanwa
Publiser.
Wiyatmi.
(2011). Psikologi Sastra. Yogyakarta:
Kanwa Publisher.

Komentar
Posting Komentar