Pabrik
Gula (PG) Kedawoeng merupakan salah satu pabrik gula tertua di Indonesia yang
terletak di Jl. Raya Banyubiru Jl. PG. Kedawaung No.KM, RW.1, Kedawung, Kedawung
Kulon, Kec. Grati, Pasuruan, Jawa Timur. Pabrik ini tidak hanya menjadi bagian
penting dalam sejarah perkembangan industri gula di Indonesia, tetapi juga
menjadi simbol perubahan zaman dari masa kolonial Belanda hingga era modern.
Dengan perjalanan panjangnya, PG Kedawoeng menyimpan berbagai kisah menarik
tentang bagaimana industri gula berkembang, bertahan, dan terus memberikan
dampak bagi masyarakat di sekitarnya.
Awal
Berdirinya PG Kedawoeng
PG Kedawoeng didirikan pada 6 November
1898 dengan nama NV Kedawoeng dan diresmikan oleh Ny. De Wed Lebret. Namun,
beberapa catatan sejarah menunjukkan bahwa pabrik ini sudah beroperasi jauh
sebelum tanggal tersebut. Salah satu bukti kuat adalah lukisan karya H.Th.
Hesselaar pada tahun 1849 yang menggambarkan aktivitas pabrik ini di tengah
perkebunan tebu. Hal ini menunjukkan bahwa PG Kedawoeng memiliki sejarah yang
lebih panjang dari yang tercatat resmi.
Pada
masa kolonial Belanda, industri gula menjadi salah satu sektor utama yang
dikembangkan di Indonesia, khususnya di Jawa Timur yang memiliki tanah subur.
PG Kedawoeng memanfaatkan teknologi modern pada zamannya, seperti mesin uap dan
mesin vakum, untuk meningkatkan efisiensi produksi. Pada tahun sekitar 1866,
pabrik ini mampu memproduksi 15.833 pikul gula, atau sekitar 950-980 ton.
Tenaga kerja pabrik sebagian besar berasal dari masyarakat lokal, yang juga
menjadi bagian dari kehidupan sosial ekonomi di sekitar pabrik.
Masa
Pendudukan Jepang dan Era Kemerdekaan
Ketika Jepang menduduki Indonesia pada
tahun 1942-1945, PG Kedawoeng dikuasai oleh pihak Jepang dan dioperasikan di
bawah pengawasan Tn. Tanako. Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya
pada tahun 1945, pabrik ini sempat mengalami konflik karena Belanda kembali
mencoba mengambil alih melalui agresi militer. Pada masa tersebut, pabrik ini
dikelola oleh K.L. Smith, seorang direktur asal Belanda Baru setelah pengakuan
kedaulatan Indonesia pada tahun 1949, PG Kedawoeng dinasionalisasi dan menjadi
bagian dari perusahaan negara yang mengelola industri gula.
Pada
tahun 1957, PG Kedawoeng di Nasionalisasikan dan menjadi milik pemerintah
Indonesia.
Pada
tahun 1961-1964 nama PG Kedawoeng diubah menjadi Perusahaan Perkebunan Negara
Kesatuan Jawa Timur III PG Kedawoeng.
Pada
Juli 1964 – Juni 1968 kembali diubah menjadi Perusahaan Perkebunan Gula Negara
/ PN Karung Goni Inspeksi Daerah VII.
Pada
Juli 1968-1975 diubah kembali menjadi PT Perkebunan XXVI-XXV PG Kedawoeng.
Pada
tahun 1975 berubah lagi menjadi PT Perkebunan XXIV-XXV (PERSERO) PG Kedawoeng.
Pada
14 Februari 1996 sesuai dengan peraturan pemerintah diubah kembali menjadi PT
Perkebunan Nusantara XI (Persero) PG Kedawoeng. Dengan kantor Direksi di Jalan
Merak No.1 Surabaya.
Perkembangan
dan Tantangan
Seiring berjalannya waktu, PG Kedawoeng
terus melakukan inovasi dan adaptasi untuk bertahan di tengah persaingan
industri gula yang semakin ketat. Salah satu upaya penting adalah modernisasi
mesin-mesin pabrik, seperti penggunaan teknologi diffuser untuk meningkatkan
efisiensi pengolahan tebu menjadi gula.
Namun, pabrik ini juga menghadapi
berbagai tantangan, terutama terkait ketersediaan bahan baku. Persaingan dengan
pabrik gula lain serta alih fungsi lahan perkebunan menjadi pemukiman dan
industri non-pertanian menyebabkan penurunan pasokan tebu. Bahkan, ada masa di
mana salah satu mesin giling harus dihentikan operasinya karena kurangnya bahan
baku. Selain itu, waktu tunggu tebu sebelum digiling juga menjadi masalah, karena
tebu yang dibiarkan terlalu lama setelah dipanen akan menurun kualitasnya, sehingga
memengaruhi hasil produksi.
Peran
Sosial dan Budaya
PG Kedawoeng bukan hanya menjadi pusat
produksi gula, tetapi juga memiliki nilai sosial dan budaya yang kuat. Salah
satu tradisi yang terus dipertahankan adalah Ritual Petik Tebu Manten. Ritual
ini merupakan upacara adat yang dilakukan sebelum panen tebu dimulai. Dalam
tradisi ini, sepasang tebu diperlakukan seperti pengantin yang siap “menikah”
dengan mesin penggilingan. Tradisi ini mencerminkan penghormatan terhadap alam
dan budaya lokal, serta menjadi bentuk rasa syukur atas hasil panen yang melimpah.
Pabrik ini juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat
sekitar. Banyak penduduk desa yang menggantungkan hidupnya pada pekerjaan di
pabrik, baik sebagai buruh penggilingan maupun di bagian administrasi dan
logistik. Keberadaan pabrik juga membuka peluang usaha bagi masyarakat, seperti
penyediaan makanan dan jasa transportasi.
PG
Kedawoeng dalam Perspektif Modern
Saat ini, PG Kedawoeng menjadi salah satu pabrik gula yang masih bertahan di Pasuruan. Dengan sejarah panjangnya, pabrik ini menjadi saksi bisu bagaimana Indonesia melewati berbagai masa, mulai dari penjajahan, kemerdekaan, hingga era globalisasi. Meski menghadapi banyak tantangan, PG Kedawoeng tetap berupaya untuk bertahan dan terus memberikan kontribusi bagi masyarakat dan perekonomian daerah. Sebagai salah satu warisan sejarah industri di Indonesia, keberadaan PG Kedawoeng memiliki nilai penting yang harus dijaga. Tidak hanya dari segi produksi gula, tetapi juga sebagai simbol perjalanan panjang bangsa dalam mengelola sumber daya alamnya. Pabrik ini juga menjadi pengingat bahwa inovasi dan adaptasi adalah kunci untuk tetap bertahan di tengah perubahan zaman.
PG Kedawoeng adalah lebih dari sekadar
pabrik gula. Ia adalah bagian dari sejarah panjang Indonesia, mencerminkan
dinamika sosial, ekonomi, dan budaya yang terus berkembang. Dengan berbagai
upaya untuk tetap relevan di era modern, pabrik ini menunjukkan bahwa warisan
masa lalu dapat menjadi fondasi yang kuat untuk menghadapi masa depan. Semoga
PG Kedawoeng terus berdiri kokoh, menjadi simbol semangat kerja keras dan
ketahanan masyarakat Indonesia.
Penulis : Afiqo Fauziah

Komentar
Posting Komentar