MAKALAH
PSIKOLOGI PENGARANG
Makalah
ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas
Kelompok Mata Kuliah Psikologi Sastra
Dosen
Pengampu: Dr. M. Bayu Firmansyah, S.S, M.Pd
Disusun Oleh Kelompok 1:
1.
Aulia
Zian Nafisa (23188201009)
2.
Eliyah
Shofa Rizqi (23188201012)
3.
Himatul
Aliyah (23188201018)
4.
Siti
Nurlaila
(23188201054)
5.
Savana
Aricha Nasution
(23188201062)
6.
Riska
Nur Anisa
(23188201046)
7.
Nur
Aisah Eka Fitriani (23188201041)
8.
Safinatuz
Zuhria
(21188201052)
9.
Muhammad
Mustofa Ali (23188201036)
10. Alifdio mahogra Z (23188201006)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA & SASTRA
INDONESIA
FAKULTAS PEDAGOGI DAN PSIKOLOGI
UNIVERSITAS PGRI WIRANEGARA PASURUAN
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmatnya dan karunianya,
kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Adapun judul dari
makalah ini adalah ”Psikologi Pengarang”.
Makalah ini telah dibuat dari berbagai jurnal
artikel yang berkaitan dengan judul makalah, untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Psikologi Sastra. Tidak lupa juga kami mengucapkan terima
kasih kepada semua pihak yang telah turut memberikan kontribusi dalam
penyusunan makalah ini. Khususnya kepada Dr. M. Bayu Firmansyah, S.S, M.Pd,
selaku dosen pembimbing Mata Kuliah Psikologi Sastra.
Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada
makalah ini. Dan ini
merupakan langkah yang baik dari studi yang sesungguhnya. Oleh karena itu,
keterbatasan waktu dan kemampuan kami, maka kritik dan saran yang membangun
senantiasa kami harapkan semoga makalah ini dapat berguna bagi kami pada
khususnya dan pihak lain yang berkepentingan pada umumnya.
Pasuruan, 10 April 2025
Penulis
DAFTAR ISI
2.1 Konsep
Psikologi Pengarang dalam Analisis Karya Sastra
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sastra
tidak hanya merupakan hasil kreativitas imajinatif, tetapi juga refleksi dari
kondisi batin dan psikologis pengarangnya. Dalam pendekatan psikologi sastra, salah
satu cabang penting adalah psikologi pengarang, yang mengkaji bagaimana
pengalaman, emosi, dan konflik batin seorang penulis memengaruhi proses kreatif
dan isi karyanya. Hal ini menunjukkan bahwa karya sastra tidak pernah hadir
dalam ruang hampa, melainkan lahir dari dinamika batin, kesadaran, bahkan alam
bawah sadar pengarang yang sering kali tidak tampak secara eksplisit di
permukaan teks.
Teori
psikoanalisis yang diperkenalkan oleh Sigmund Freud menjadi fondasi utama dalam
pendekatan ini. Freud menjelaskan bahwa struktur kepribadian manusia terdiri
dari tiga elemen penting, yaitu id (dorongan naluriah), ego (penengah
realitas), dan superego (nilai moral dan norma sosial). Ketiganya saling
bertarung dan membentuk perilaku serta cara individu mengekspresikan dirinya,
termasuk dalam proses penciptaan karya sastra. Albertine Minderop dalam bukunya
"Psikologi Sastra: Karya, Metode, Teori, dan Contoh Kasus" memberikan
penjelasan komprehensif mengenai penerapan teori Freud dalam kajian sastra,
khususnya dalam mengungkap konflik-konflik batin pengarang yang tersembunyi di
balik struktur cerita dan karakter.
Pendekatan
ini memungkinkan pembaca untuk memahami karya sastra sebagai cerminan dari
pergulatan jiwa dan kejiwaan penulisnya. Karya sastra yang bertema psikologis
sering kali menjadi medium untuk menyalurkan konflik batin pengarang yang tidak
bisa diungkapkan secara langsung dalam kehidupan nyata. Misalnya, Franz Kafka
melalui novel "Metamorphosis" menggambarkan keterasingan dan
ketakutan yang merefleksikan kecemasan eksistensialnya. Pramoedya Ananta Toer
dalam "Bumi Manusia" menghadirkan tokoh Minke sebagai representasi
dari perjuangannya melawan ketidakadilan dan represi politik. Sedangkan puisi
"Aku" karya Chairil Anwar merupakan simbol dari perlawanan batin
terhadap norma sosial dan keinginan untuk hidup bebas. Ketiga karya ini
menunjukkan bagaimana teori psikoanalisis dapat digunakan untuk memahami
struktur bawah sadar dan konflik psikologis pengarang yang tertuang dalam
bentuk karya sastra. Dengan demikian, pendekatan psikologi pengarang tidak
hanya memperkaya pemahaman terhadap isi karya, tetapi juga memperdalam
apresiasi terhadap proses kreatif penulis sebagai manusia yang utuh dan
kompleks.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana
pengaruh pengalaman pribadi dan kondisi kejiwaan
pengarang tercermin dalam karya sastra?
2. Bagaimana
psikologi pengarang dijelaskan melalui teori
psikoanalisis Sigmund Freud dalam buku karya Albertine Minderop?
3. Bagaimana
penerapan teori psikoanalisis Freud dalam menganalisis karya Franz Kafka (Metamorphosis),
Pramoedya Ananta Toer (Bumi Manusia), dan Chairil Anwar (Puisi “Aku”)?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh
pengalaman pribadi dan kondisi kejiwaan pengarang tercermin dalam karya sastra
2. Untuk mengetahui bagaimana psikologi
pengarang dijelaskan melalui teori psikoanalisis Sigmund Freud dalam buku
Albertine Minderop
3. Untuk mengetahui bagaimana penerapan teori psikoanalisis Freud
dalam menganalisis karya Franz Kafka (Metamorphosis), Pramoedya Ananta Toer
(Bumi Manusia), dan Chairil Anwar (Puisi “Aku”)
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Konsep Psikologi
Pengarang dalam Analisis Karya Sastra
Psikologi pengarang
merupakan salah satu wilayah psikologi kesenian yang membahas aspek kejiwaan
pengarang sebagai suatu tipe maupun sebagai seorang pribadi (Wellek
&Warren, 1990:90). Dalam kajian ini yang menjadi fokus adalah aspek
kejiwaan pengarang yang memiliki hubungan dengan proses lahirnya karya sastra.
Pengarang adalah anggota masyarakat biasa, sama seperti orang lain.
Kemampuannya dalam menghasilkan karya sastra disebabkan oleh perbedaan
kualitas, yaitu kualitas dalam memanfaatkan emosionalitas dan intelektualitas.
Pada dasarnya siapa pun dapat menjadi seorang pengarang. Perbedaannya terletak
pada kualitas karya yang dihasilkan.
Dalam jurnal yang ditulis
oleh
1. Studi
psikologis terhadap pengarang sebagai tipe dan pengarang sebagai individu
2. Studi
mengenai proses kreativitas
3. Studi
mengenai tipe dan hukum-hukum karya sastra, dan
4. Studi
mengenai efek karya sastra terhadap kejiwaan pembacanya.
Analisis psikologi
pengarang dalam karya sastra berfokus pada bagaimana kondisi kejiwaan,
pengalaman pribadi, serta konflik internal seorang penulis mempengaruhi proses
kreatif dan hasil karyanya. Pendekatan ini berusaha menggali lebih dalam
bagaimana latar belakang, emosi, serta dinamika psikologis pengarang tercermin
dalam karakter, tema, dan alur cerita yang mereka ciptakan. Setiap pengalaman
hidup, baik suka maupun duka, dapat menjadi sumber inspirasi yang membentuk isi
karya sastra, menjadikannya lebih autentik dan bermakna.
Selain itu, studi
psikologi pengarang juga mencakup pengelompokan berdasarkan tipe psikologi dan
fisiologis mereka, yang memberikan wawasan lebih luas mengenai pola pikir serta
kecenderungan dalam berkarya. Dengan memahami aspek-aspek ini, kita tidak hanya
dapat menginterpretasikan makna yang tersembunyi dalam karya sastra, tetapi
juga melihat bagaimana sastra berfungsi sebagai cerminan kompleksitas pikiran
dan emosi manusia. Oleh karena itu, pendekatan psikologi pengarang menjadi
salah satu cara penting dalam mengapresiasi sastra, karena membantu kita
memahami lebih dalam hubungan antara kehidupan pengarang dan dunia yang mereka
bangun dalam karyanya.
Karya
sastra pada dasarnya tidak hanya merupakan hasil imajinasi semata, melainkan
juga cerminan dari kehidupan batin dan pengalaman pribadi pengarangnya. Dalam
pendekatan psikologi pengarang, pengalaman hidup seperti trauma masa kecil,
tekanan sosial, kehilangan, konflik keluarga, hingga kondisi mental tertentu
bisa memengaruhi isi dan bentuk dari karya sastra yang dihasilkan. Bahkan,
pengalaman-pengalaman itu seringkali muncul secara tidak langsung, lewat
simbol, karakter, atau suasana cerita yang ditampilkan.
Jadi, dalam psikologi
pengarang membahas tentang bagaimana kondisi psikologis seorang penulis
memengaruhi karyanya. Ada beberapa teori yang bisa dipakai, salah satunya teori psikoanalisis oleh Sigmund Freud bisa
dipakai untuk menganalisis bagaimana pengalaman masa lalu, trauma, atau konflik
batin seorang pengarang terproyeksi dalam karyanya.
2.2 Teori Psikoanalisis oleh Sigmund Freud
(Membantu Memahami Pengaruh Bawah Sadar Pengarang Terhadap Isi dan Karakter
dalam Karya Sastra Berdasrkan Buku
Albert Mind The Road)
Teori
Psikoanalisis adalah sebuah teori yang berusaha menjelaskan hakikat dan
perkembangan kepribadian manusia. Teori ini menekankan motivasi, emosi, dan
aspek internal lainnya sebagai faktor utama dalam perkembangan kepribadian.
Menurut teori ini, kepribadian berkembang melalui konflik-konflik psikologis
yang biasanya terjadi pada masa anak-anak atau usia dini. Psikoanalisis
menawarkan banyak kontribusi untuk bidang pendidikan dengan memahami dinamika
internal individu yang mempengaruhi perilaku dan perkembangan mereka.
(Ardiansyah,2023)
Menurut Albertine
Minderop dalam bukunya Psikologi Sastra: Karya Sastra, Metode, Teori, dan
Contoh, teori psikoanalisis Sigmund Freud dapat digunakan untuk memahami
psikologi pengarang melalui karya sastranya. Minderop menjelaskan bahwa karya
sastra sering kali menjadi cerminan alam bawah sadar pengarang, di mana
berbagai konflik batin, hasrat terpendam, trauma masa kecil, dan mekanisme
pertahanan diri bisa tercermin dalam tokoh, alur, dan simbol-simbol dalam
cerita. Beberapa poin utama dari penjelasan Albertine Minderop tentang
psikoanalisis pengarang berdasarkan teori Freud:
1. Id, Ego, dan Superego:
Struktur
kepribadian Freud (id, ego, superego) digunakan untuk menganalisis
dorongan-dorongan naluriah dalam diri pengarang yang mungkin tampak dalam
tokoh-tokoh ciptaannya. Misalnya, tokoh yang impulsif bisa mencerminkan
dominasi id, sedangkan tokoh yang penuh pertimbangan bisa mencerminkan ego atau
superego pengarang.
2. Mimpi dan Simbolisme
Sama seperti
mimpi, karya sastra bisa menjadi bentuk ekspresi simbolik dari keinginan atau
ketakutan bawah sadar. Minderop menyebutkan bahwa simbol dalam karya sastra
sering kali merupakan bentuk penyaluran keinginan yang ditekan oleh superego.
4. Pengalaman Masa Kecil
Freud menekankan
pentingnya pengalaman masa kecil dalam pembentukan kepribadian. Minderop
menyatakan bahwa pengalaman masa kecil pengarang sering muncul dalam karyanya,
baik secara eksplisit maupun terselubung, terutama dalam penggambaran hubungan
keluarga atau dinamika psikologis anak-anak dalam cerita.
5. Mekanisme Pertahanan Diri
Minderop juga
menyinggung penggunaan mekanisme pertahanan diri seperti represi, proyeksi, dan
sublimasi dalam tokoh-tokoh sastra sebagai representasi mekanisme yang mungkin
digunakan oleh pengarang sendiri dalam menghadapi konflik batinnya.
Jadi, melalui
pendekatan psikoanalisis Freud yang dikembangkan dalam konteks sastra oleh
Albertine Minderop, pembaca dapat menyelami lebih dalam kondisi psikologis
pengarang melalui analisis teks sastra yang dihasilkannya. Minderop, Albertine.
Psikologi Sastra: Karya, Metode, Teori, dan Contoh Kasus. Buku ini merupakan
sumber utama yang membahas penerapan teori psikoanalisis dalam analisis sastra,
termasuk bagaimana aspek id, ego, dan superego dapat digunakan untuk memahami
karakter tokoh dan refleksi psikologis pengarang dalam karya sastra.
Teori
psikoanalisis adalah pendekatan dalam psikologi yang dikembangkan oleh Sigmund
Freud yang menekankan pentingnya alam bawah sadar, konflik internal, dan
pengalaman masa kecil dalam membentuk perilaku dan kepribadian seseorang. Teori
ini berfokus pada struktur kepribadian yang terdiri dari id, ego, dan superego,
serta mekanisme pertahanan yang digunakan ego untuk mengatasi kecemasan.
Beberapa konsep utama dalam
teori psikoanalisis meliputi:
1. Id : Bagian
dari kepribadian yang berisi dorongan naluriah dan keinginan dasar.
2. Ego : Bagian yang berfungsi sebagai penengah antara
id dan realitas.
3. Superego :
Bagian yang berisi norma dan moralitas internal.
4.Konflik psikodinamik: Ketegangan antara dorongan
bawah sadar dan tuntutan sosial.
5. Mekanisme pertahanan: Strategi yang digunakan ego
untuk melindungi diri dari kecemasan, seperti penyangkalan, represi, dan
sublimasi.( A. Elliott, 1994)
Menurut Albertine
Minderop dalam bukunya Psikologi Sastra: Karya, Metode, Teori, Dan Contoh
Kasus, salah satu cara untuk memahami psikologi pengarang adalah dengan
menggunakan teori psikoanalisis dari Sigmund Freud. Teori ini menjelaskan bahwa
setiap orang memiliki alam bawah sadar, yaitu bagian dari pikiran yang tidak
disadari, tetapi sangat berpengaruh terhadap perilaku dan cara berpikir
seseorang. Dalam konteks pengarang, Freud percaya bahwa pengalaman masa lalu,
terutama yang terjadi pada masa kanak-kanak, serta konflik batin dan
keinginan-keinginan tersembunyi, dapat memengaruhi cara seorang pengarang
menulis. Hal-hal tersebut secara tidak langsung muncul dalam karyanya, misalnya
melalui simbol, tokoh, alur cerita, atau tema tertentu. Misalnya, jika seorang
pengarang memiliki trauma masa kecil, hal ini bisa tercermin dalam tokoh utama
yang juga mengalami penderitaan serupa. Atau, jika pengarang menyimpan
keinginan tertentu yang tidak bisa diungkapkan secara langsung, ia bisa
menyampaikannya secara tersirat lewat cerita.
Freud juga
menjelaskan adanya mekanisme pertahanan diri, seperti penyangkalan atau
pengalihan, yang bisa terlihat dalam gaya penulisan atau isi cerita seorang
pengarang. Oleh karena itu, karya sastra bisa menjadi cerminan dari kondisi
kejiwaan pengarang. Dengan menganalisis karya sastra tersebut, kita bisa
memahami lebih dalam tentang motivasi dan konflik batin yang dialami oleh si
pengarang.
Teori
psikoanalisis adalah pendekatan dalam psikologi yang berfokus pada pengaruh
ketidaksadaran terhadap perilaku dan emosi maladaptif seseorang. Teori ini
berasumsi bahwa individu sering tidak menyadari faktor-faktor yang menyebabkan
perilaku dan perasaan yang tidak nyaman. Terapi psikoanalitik bertujuan untuk
mengungkap bagaimana pengalaman masa kecil memengaruhi perkembangan kepribadian
seseorang. Teknik dalam terapi ini digunakan untuk menunjukkan kepada klien
bagaimana pikiran dan mekanisme pertahanan yang terbentuk sejak dini
memengaruhi pola perilaku, hubungan interpersonal, dan kesehatan mental secara
keseluruhan. Tujuan utama dari konseling psikodinamik adalah meningkatkan
kesadaran diri klien dan pemahaman tentang pengaruh masa lalu terhadap perilaku
saat ini, serta memperbaiki distorsi yang ada dalam persepsi klien.(
A.L Johnson,
2011)
Teori
Psikoanalisis adalah salah satu teori psikologi yang dikembangkan oleh Sigmund
Freud pada awal abad ke-20. Teori ini berfokus pada pemahaman struktur, fungsi,
dan perilaku yang berasal dari pikiran bawah sadar seseorang. Psikoanalisis
menjelaskan bagaimana pengalaman masa kecil, dorongan naluri, dan konflik
emosional memengaruhi perkembangan kepribadian seseorang. Teori ini juga
menekankan pentingnya mengungkapkan konflik bawah sadar melalui teknik seperti
analisis mimpi, asosiasi bebas, dan terapi bicara. Tujuan utama psikoanalisis
adalah membantu individu mengatasi konflik bawah sadar dan memperbaiki
keseimbangan antara id, ego, dan superego. Freud membagi pikiran manusia
menjadi tiga bagian: id (bagian primitif yang beroperasi berdasarkan prinsip kesenangan),
ego (mediator antara id dan superego), dan superego (bagian yang mengatur moral
dan nilai sosial). Konflik antara ketiga bagian ini dapat menyebabkan kecemasan
dan gangguan psikologis.(Abdi Husnul,2024)
2.3 Penerapan teori
psikoanalisis Freud dalam menganalisis Karya frans kafka ( metamorfosis),
Pramoedya ananta toer ( Bumi manusia), dan Chairil Anwar ( Puisi “aku”)
1. Novel
“metamorfosisis” Karya Frans Kafka
Penerapan teori
psikoanalisis Freud dalam menganalisis karya Franz Kafka, khususnya dalam "Metamorphosis,"
dapat dilakukan dengan melihat konflik batin dan dinamika psikologis tokoh
utama, Gregor Samsa. Dalam analisis ini, aspek-aspek seperti id, ego, dan
superego, serta mekanisme pertahanan psikologis, menjadi fokus utama. Gregor yang
berubah menjadi serangga dapat diinterpretasikan sebagai manifestasi dari
ketegangan antara keinginan bawah sadar (id) dan tuntutan realitas (ego) serta
norma sosial (superego). Perubahan fisik Gregor mencerminkan konflik internal
dan alienasi yang dialaminya, yang merupakan simbol dari tekanan psikologis dan
ketidakmampuan beradaptasi dengan lingkungan sosial dan keluarganya. Selain
itu, ketidakmampuan Gregor untuk berkomunikasi dan diterima oleh keluarganya
menggambarkan konflik psikologis yang mendalam, termasuk perasaan bersalah,
kecemasan, dan penolakan diri yang dapat dianalisis melalui lensa psikoanalisis
Freud. Analisis ini membantu memahami karakter Gregor secara lebih mendalam
sebagai representasi dari konflik psikologis manusia yang kompleks, terutama
dalam konteks tekanan sosial dan eksistensial.
Dalam novel
Metamorphosis, tokoh utama Gregor Samsa mengalami perubahan mendadak menjadi
seekor kecoa. Transformasi ini secara psikoanalitik bisa dipahami sebagai
manifestasi dari konflik batin Kafka sendiri. Dalam teori Freud, tokoh Gregor
merepresentasikan konflik antara id (keinginan untuk bebas dari beban tanggung
jawab keluarga), ego (usaha bertahan dalam kenyataan), dan superego (rasa
bersalah dan norma yang menekan). Kafka dikenal memiliki hubungan yang sangat
tegang dengan ayahnya, yang otoriter dan menekan. Perasaan tidak dihargai serta
keterasingan sosial dan keluarga yang ia alami menjadi konflik psikologis yang
kemudian disalurkan ke dalam tokoh Gregor. Perubahan menjadi kecoa bisa
ditafsirkan sebagai simbol keinginan bawah sadar Kafka untuk “menghilang” dari
tekanan hidup.
Dalam
The Metamorphosis, transformasi Gregor Samsa menjadi serangga mencerminkan
konflik batin dan tekanan psikologis yang mendalam. Analisis psikoanalisis
Freud mengungkapkan bahwa perubahan fisik Gregor adalah manifestasi dari
represi dan rasa bersalah yang terpendam, terutama terkait hubungannya dengan
ayahnya. Konflik Oedipus kompleks terlihat dalam dinamika keluarga Gregor, di
mana dominasi ayahnya dan ketidakmampuannya untuk memenuhi harapan keluarga
menciptakan ketegangan internal yang mendalam. Metafora ini menggambarkan
perjuangan antara id (keinginan bawah sadar), ego (kesadaran), dan superego
(norma sosial) dalam diri Gregor.
Adapun penerapan
teori psikoanalisis dalam novel “Metamorphosis” menurut
a. Ide: Gregor Samsa memiliki keinginan untuk istirahat,
bebas dari beban sebagai tulang punggung keluarga. Ia bekerja keras demi
keluarganya, namun dalam batinnya, ia ingin lepas dari tuntutan dan tekanan.
Keinginan ini muncul secara bawah sadar dan “meledak” dalam bentuk transformasi
menjadi kecoa, simbol dari keinginannya untuk menghilang dari kehidupan sosial
yang menekannya.
b. Ego: Setelah menjadi kecoa, Gregor berusaha tetap
rasional. Ia menyembunyikan dirinya agar tidak membuat keluarganya takut,
berusaha memahami situasi meskipun tidak bisa lagi berbicara. Ego Gregor
berperan sebagai penengah antara keinginannya untuk bebas (id) dan kenyataan
bahwa ia masih ingin diterima keluarganya (superego).
c. Superego: Gregor merasa bersalah karena tidak bisa
bekerja lagi, merasa menjadi beban keluarga. Ia terus merenungkan bahwa ia
telah mengecewakan mereka. Rasa bersalah ini merupakan bentuk dari tekanan
moral yang tertanam dalam dirinya sejak lama.
Contoh kutipan:
“Jika aku tidak karena orang tua dan adikku, aku sudah
lama berhenti kerja...”
Menunjukkan rasa tanggung jawab dan beban moral
(superego) yang membelenggu Gregor.
2. Novel “ Bumi manusia” Karya Pramodya Ananta Toer
Analisis psikoanalisis terhadap tokoh Minke dalam
Bumi Manusia menunjukkan konflik antara id, ego, dan superego dalam dirinya. Id
Minke tercermin dalam hasrat dan keinginannya untuk menulis dan mencintai
Annelies. Ego-nya berusaha menyeimbangkan keinginan tersebut dengan realitas
kolonial yang menindas, sementara superego-nya dipengaruhi oleh norma-norma
sosial dan budaya Jawa yang konservatif. Konflik internal ini mencerminkan
perjuangan Minke dalam mencari identitas dan kebebasan di tengah tekanan sosial
dan politik. Watak Tokoh Utama dalam Novel Bumi Manusia Karya Prmoedya Ananta
Toer.
Pramoedya menulis Bumi Manusia saat dalam kondisi
penahanan tanpa proses hukum. Melalui tokoh Minke, ia menyuarakan penindasan
yang ia alami. Dalam teori Freud, tindakan ini dapat dianggap sebagai bentuk
sublimasi: yaitu penyaluran konflik batin dan dorongan bawah sadar menjadi
karya sastra.
Konflik antara id (keinginan memberontak terhadap
penindasan kolonial), ego (usaha mengungkapkan perjuangan secara intelektual
melalui tulisan), dan superego (tekanan dari sistem yang mengekang kebebasan)
tampak dalam diri Minke. Karya ini bukan hanya fiksi, tapi juga media katarsis
Pramoedya untuk melawan ketidakadilan dengan cara yang bisa diterima publik. Adapun penerapan teori psikoanalisis dalam novel “ Bumi
Manusia” yaitu :
a.
Id
Minke memiliki
dorongan kuat untuk menolak diskriminasi, memperjuangkan martabat bangsa, dan
menyuarakan keadilan. Dorongan ini lahir dari batin Pramoedya sendiri sebagai
orang yang mengalami represi politik, terutama saat ia ditahan tanpa proses
hukum.
b.
Ego
Minke memilih
jalur pendidikan dan tulisan sebagai alat perjuangan. Ia tidak memberontak
secara fisik, tapi menggunakan narasi sebagai cara yang logis dan strategis
dalam menyampaikan ide. Inilah peran ego—mengatur strategi realitas.
c.
Superego
Superego Minke
terlihat saat ia tetap menghormati ayahnya, gurunya, dan sistem hukum, meskipun
ia tahu sistem itu timpang. Ia masih dibatasi oleh norma dan aturan sosial yang
melekat, meskipun perlahan mulai ia lawan.
Contoh
kutipan:
“Kita ini manusia
yang beradab, bukan binatang.” → menunjukkan pertarungan nilai moral dalam
dirinya (superego) sekaligus kehendak untuk menggunakan cara terhormat (ego).
3.Puisi “ Aku”
Karya Chairil Anwar
Penerapan
teori psikoanalisis Sigmund Freud dalam menganalisis puisi "Aku"
karya Chairil Anwar (sering disalahartikan sebagai karya Franz) bisa dilakukan
dengan melihat unsur-unsur kejiwaan penulis yang tercermin dalam puisi. Teori
Freud menekankan tiga struktur kepribadian utama: id, ego, dan superego, serta
pentingnya pengalaman masa kecil, ketidaksadaran, dan dorongan-dorongan
naluriah.
Berikut
adalah contoh analisis dengan pendekatan psikoanalisis Freud terhadap puisi
"Aku":
a.
Id
: Dorongan Naluriah dan Pemberontakan,
Baris seperti: "Kalau sampai waktuku / 'Ku mau
tak seorang 'kan merayu"
Menunjukkan
dorongan bebas dan hasrat kuat dari id Chairil Anwar untuk merdeka dari norma sosial
dan ekspektasi orang lain. Ia menolak untuk tunduk, yang menggambarkan dorongan
bawah sadar untuk menjadi otentik dan independen.
b.
Ego
– Realitas Diri dan Kesadaran.
Pada bagian: "Aku ini binatang jalang / Dari
kumpulannya terbuang"
menyiratkan
kesadaran penyair terhadap posisinya yang terasing dari masyarakat. Ini adalah
ego yang menyadari kenyataan hidupnya. Ia tahu bahwa dia berbeda dan
menempatkan dirinya sebagai "binatang jalang", simbol pemberontakan
tapi juga pengakuan akan keterasingan.
c.
Superego
– Nilai dan Moral
Walau
penuh pemberontakan, Chairil juga memperlihatkan konflik batin antara kebebasan
pribadi dan norma sosial. Superego muncul sebagai tekanan batin atau rasa
bersalah yang tidak ditunjukkan langsung, tapi terasa dalam nada puisi yang
gelap dan penuh ketegangan emosional.
d.
Ketidaksadaran
(Unconscious) dan Simbolisme.
Simbol-simbol
seperti "binatang jalang" dan "aku" yang menolak dirayu
dapat ditafsirkan sebagai representasi dari trauma, konflik batin, atau
perasaan ditolak pada masa lalu, mungkin dari lingkungan atau keluarga. Freud
percaya bahwa banyak ekspresi seni bersumber dari alam bawah sadar, dan dalam
puisi ini, kemarahan dan pencarian identitas kuat terlihat.
e.
Konflik
Psikis
Secara keseluruhan, puisi ini
memancarkan konflik antara keinginan bebas (id), realitas hidup (ego), dan
nilai sosial (superego), yang menjadi inti pendekatan Freud. Chairil tampak
mencoba menyeimbangkan semua itu melalui ekspresi puitis.
Penerapan
Teori Psikoanalisis Freud dalam Puisi “Aku” Karya Chairil Anwar. Puisi “Aku”
merupakan salah satu karya terkenal Chairil Anwar yang sarat dengan semangat
perlawanan dan individualisme. Puisi ini juga sering dijadikan objek kajian
psikologi sastra, khususnya dalam pendekatan psikoanalisis Freud. Pendekatan
ini meneliti unsur bawah sadar, konflik batin, dan struktur kepribadian
pengarang melalui karya sasteranya.
Adapun
Struktur Psikis Freud dalam Puisi “Aku” yakni:
a.
Id
(Nafsu & Dorongan Bawah Sadar)
Dinyatakan melalui
keberanian dan agresi dalam puisi:
“Aku
ini binatang jalang / Dari kumpulannya terbuang.”
Ini menandakan
dorongan liar dan bebas yang berasal dari dalam diri penyair, sebagai bentuk
pemberontakan terhadap norma sosial.
b. Ego (Penengah)
Chairil mencoba
menyeimbangkan antara dorongan bebasnya dengan realitas hidup.
“Aku
mau hidup seribu tahun lagi”
Menunjukkan
keinginan yang realistis, meski ambisius—bentuk dari ego yang dominan dan sadar
akan eksistensinya.
c. Superego (Nilai
Moral & Norma Sosial)
Baris
seperti “Aku mau tak seorang 'kan merayu”
Mengindikasikan
adanya perlawanan terhadap norma atau tuntutan masyarakat. Superego hadir dalam
bentuk penolakan terhadap kendali eksternal.
d. Konflik Batin dan Mekanisme Pertahanan.
Konflik batin dan
mekanisme pertahanan ini dibagi menjadi 3 pembagian diantaranya:
(1)
Sublimasi:
Chairil menyalurkan perasaan agresi, ketakutan, dan pemberontakan ke dalam
puisi sebagai bentuk seni, bukan tindakan fisik.
(2)
Proyeksi:
Konflik sosial dan politik zamannya diproyeksikan dalam puisi sebagai konflik
personal.
(3)
Reaksi
Formasi: Pernyataan ekstrem seperti “Biar peluru menembus kulitku” bisa menjadi
pertahanan dari ketakutan sebenarnya—yaitu rasa tidak berdaya atau terpinggir.
e.Dorongan Eros dan Thanatos
− Eros (dorongan hidup): “Aku mau hidup seribu tahun
lagi” adalah simbol keinginan hidup, kekal, dan bermakna.
−Thanatos (dorongan kematian): Tema tentang peluru,
kesendirian, dan keterasingan menunjukkan kesadaran akan kematian, namun tidak
menyerah padanya.
Jadi
Melalui pendekatan psikoanalisis Freud, puisi “Aku” menggambarkan konflik
antara hasrat bawah sadar, nilai-nilai sosial, dan kenyataan hidup. Chairil
Anwar sebagai tokoh yang keras dan individualis berhasil mengekspresikan
dinamika psikologinya dalam bentuk puisi yang kuat dan emosional.
Puisi
"Aku" karya Chairil Anwar mencerminkan ekspresi dari alam bawah sadar
penyair yang penuh dengan semangat pemberontakan dan keinginan untuk merdeka.
Melalui lensa psikoanalisis Freud, puisi ini menggambarkan konflik antara id
(keinginan untuk bebas dan hidup seribu tahun lagi), ego (kesadaran akan
realitas kehidupan), dan superego (norma dan nilai sosial). Penggunaan bahasa simbolik
dan metafora dalam puisi ini mencerminkan upaya penyair untuk mengekspresikan
hasrat dan konflik internal yang terpendam.
Puisi
“Aku” dikenal sebagai simbol pemberontakan dan eksistensialisme. Dalam bait
“Aku ini binatang jalang / Dari kumpulannya yang terbuang”, Chairil menunjukkan
dominasi id—dorongan kuat untuk bebas dan tidak dikekang. Sementara tekanan
sosial saat itu (masa penjajahan dan budaya konservatif) berperan sebagai
superego yang ingin mengatur. Puisi ini menjadi bentuk ekspresi ego Chairil
dalam menyeimbangkan dorongan bawah sadar dan realitas hidup.
Menurut
teori Freud, Chairil menyalurkan konflik psikologisnya melalui bahasa puisi
sebagai bentuk sublimasi. Ia tidak menyerang secara langsung, tapi melalui
kekuatan kata-kata yang sarat emosi dan simbol. Chairil juga dikenal hidup
bebas dan sering kali menolak aturan sosial, yang tercermin jelas dalam gaya
puisinya.
Berikut
adalah contoh analisis dengan pendekatan psikoanalisis Freud terhadap puisi
a.
Id:
Chairil
menunjukkan hasrat hidup yang sangat kuat, kebebasan mutlak, dan keinginan
untuk tidak tunduk pada siapa pun. Kalimat “Aku mau hidup seribu tahun lagi!”
adalah ekspresi dari dorongan naluriah yang tidak terbatasi—id yang
mendominasi.
b.
Ego:
Meski
penuh pemberontakan, Chairil tetap menyampaikan keresahannya lewat puisi, bukan
tindakan anarkis. Ego-nya berperan menjaga bentuk ekspresi tetap bisa diterima,
yaitu melalui seni dan metafora, bukan konfrontasi langsung.
c.
Superego:
Terdapat
benturan antara keinginan liar Chairil dan tekanan norma masyarakat saat itu.
Ia merasa “terbuang” dan tidak diakui, menandakan adanya konflik batin antara
keinginan dan nilai-nilai sosial yang mengekangnya.
Contoh kutipan:
“Aku
ini binatang jalang / Dari kumpulannya yang terbuang” → Id-nya mengamuk, tapi
tetap berada dalam ruang estetika (ego), melawan aturan sosial (superego).
(Minderop, A.2010)
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Karya sastra merupakan cerminan jiwa seorang pengarang.
Ia bukan sekadar hasil dari imajinasi semata, melainkan juga ekspresi kondisi
batin dan pengalaman hidup sang penulis, termasuk berbagai trauma, emosi, serta
konflik batin yang pernah dialami. Dalam dunia kajian sastra, pendekatan
psikologi pengarang menjadi salah satu cara untuk memahami lebih dalam
bagaimana aspek kejiwaan seorang penulis memengaruhi proses kreatif maupun isi
karya yang dihasilkannya. Pendekatan ini menitikberatkan pada analisis latar
belakang psikologis pengarang, dengan fokus utama pada bagaimana pergulatan
mental, pengalaman hidup, serta konflik internalnya terproyeksi ke dalam
karyanya. Salah satu teori yang banyak digunakan dalam kajian ini adalah teori
psikoanalisis Sigmund Freud, yang membagi struktur kepribadian manusia menjadi
tiga bagian, yaitu id, ego, dan superego. Ketiga struktur ini sering kali dapat
dikenali dalam tokoh-tokoh atau simbol-simbol yang hadir dalam karya sastra. Konflik
bawah sadar yang dialami pengarang kerap muncul secara simbolis dalam alur
cerita atau karakter-karakter yang ia ciptakan. Keinginan tersembunyi,
ketakutan yang mendalam, serta pengalaman masa kecil menjadi bahan baku penting
dalam proses kreatif yang, meskipun tidak selalu disadari secara penuh oleh
pengarang, tercermin jelas dalam hasil karyanya. Penerapan
pendekatan ini dapat dilihat dalam beberapa karya besar. Franz Kafka, dalam
karyanya Metamorphosis, menggambarkan konflik batin dan keterasingan akibat
tekanan sosial serta hubungan keluarga yang kompleks. Pramoedya Ananta Toer
melalui Bumi Manusia menciptakan tokoh Minke sebagai media sublimasi dari
perjuangan dan perlawanan terhadap penindasan kolonial yang ia rasakan.
Sementara itu, dalam puisi "Aku", Chairil Anwar mengekspresikan
individualisme dan pergulatan antara kebebasan pribadi dengan norma sosial yang
mengikat. Melalui pendekatan psikoanalisis, pembaca dapat memahami
karya sastra bukan hanya sebagai bentuk estetika, tetapi juga sebagai media
refleksi psikologis pengarang. Di sisi lain, karya tersebut menjadi semacam
proses penyembuhan bagi pengarang atas berbagai konflik batin yang pernah
mereka alami. Dengan demikian, pendekatan ini membuka jalan untuk menafsirkan
karya sastra secara lebih dalam dan kaya makna.
DAFTAR PUSTAKA
Afriliana, V. A., Nugroho, Y.
A., & Supriyanto, T. (2024). Kajian Psikoanalisis Sigmund Freud dalam
Novel A Untuk Amanda Karya Annisa Ihsani. Jurnal Bastra, 1-3.
Allegra, Y. (2023, 8
18). Psikologi Sastra: Keterkaitan Karya Sastra dan Kejiwaan Manusia.
Diambil kembali dari mocopat.com:
https://mocopat.com/psikologi-sastra-keterkaitan-karya-sastra-dan-kejiwaan-manusia/
atikah, n. (November
2021). A PSYCHOLOGICAL ANALYSIS OF THE MAIN CHARACTER IN FRANZ KAFKA’S
METAMORPHOSIS. MEDIOVA Journal of Islamic Media Studies , 150-166.
Basuki, I. (2015).
ASPEK PSIKOLOGIS PENGARANG DAN PENGARUHNYA TERHADAP PERWATAKAN TOKOH UTAMA
NOVEL LADY CHATTERLAY’S LOVER. unec.id, 128.
Fatana, N. A., Arlin,
& dkk. (2023, 4 18). Pendekatan Kritik Sastra. Diambil kembali
dari scribd.com:
https://www.scribd.com/document/828718353/MAKALAH-KELOMPOK-2-PENDEKATAN-KRITIK-SASTRA
Jayanti, M. D. (2020).
Pendekatan Ekspresif dan Objektif dalam Novel "Mencari Perempuan yang
Hilang". WACANA: Jurnal Bahasa, Seni, dan Pengajaran, 80-82.
Lafamane, F. (2020).
KAJIAN STILISTIKA(Komponen Kajian Stilistika). osfpreprint, 5-6.
Mindderop. (2010).
Teori Psikoanalisis Sigmund Freud. eprints.umm, 1-8.
Nofianti, N., Priyadi,
A. T., & Wartiningsih, A. (2018). PSIKOLOGI SASTRA NOVEL REMAJA MY IDIOT
BROTHER. untan.ac.id, 3.
raharjo, w. j. (2021).
Being Away from Home in Australia: The Indonesian Diaspora in Canberra. jurnal
ugm, 93-102.
Sari, R. H. (2023). Pendekatan
Psikologi Sastra dalam Analisis Prosa Fiksi. Tasikmalaya: Perkumpulan
Rumah Cemerlang Indonesia (PRCI).
Sugihastuti. (2001).
proses kreatif dan teori interpretasi. media neliti, 1-2.
Windasari. (2018).
Kajian Psikoanalisi Sigmund Freud. eprints.umn, 1-9.

Komentar
Posting Komentar