Psikologi Sastra: Makalah Psikologi Pengarang Kelompok 1

 

 MAKALAH

PSIKOLOGI PENGARANG

 

Makalah ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas  Kelompok Mata Kuliah Psikologi Sastra

Dosen Pengampu: Dr. M. Bayu Firmansyah, S.S, M.Pd


 

Disusun Oleh Kelompok 1:

1.          Aulia Zian Nafisa                          (23188201009)

2.          Eliyah Shofa Rizqi                         (23188201012)

3.          Himatul Aliyah                              (23188201018)

4.          Siti Nurlaila                                   (23188201054)

5.          Savana Aricha Nasution                (23188201062)

6.          Riska Nur Anisa                            (23188201046)

7.          Nur Aisah Eka Fitriani                  (23188201041)

8.          Safinatuz Zuhria                           (21188201052)

9.          Muhammad Mustofa Ali              (23188201036)

10.      Alifdio mahogra Z                         (23188201006)

 

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA & SASTRA INDONESIA

FAKULTAS PEDAGOGI DAN PSIKOLOGI

UNIVERSITAS PGRI WIRANEGARA PASURUAN

APRIL 2025

 

 

 

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmatnya dan karunianya, kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Adapun judul dari makalah ini adalah ”Psikologi Pengarang”.

Makalah ini telah dibuat dari berbagai jurnal artikel yang berkaitan dengan judul makalah, untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Psikologi Sastra. Tidak lupa juga kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah turut memberikan kontribusi dalam penyusunan makalah ini. Khususnya kepada Dr. M. Bayu Firmansyah, S.S, M.Pd, selaku dosen pembimbing Mata Kuliah Psikologi Sastra.

Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada makalah ini. Dan ini merupakan langkah yang baik dari studi yang sesungguhnya. Oleh karena itu, keterbatasan waktu dan kemampuan kami, maka kritik dan saran yang membangun senantiasa kami harapkan semoga makalah ini dapat berguna bagi kami pada khususnya dan pihak lain yang berkepentingan pada umumnya.

 

 

 

Pasuruan, 10 April 2025

 

 

Penulis        

 

 

 


 

 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR. 2

DAFTAR ISI 3

BAB I 4

PENDAHULUAN.. 4

1.1        Latar Belakang. 4

1.2        Rumusan Masalah. 5

1.3        Tujuan. 5

BAB II 6

PEMBAHASAN.. 6

2.1        Konsep Psikologi Pengarang dalam Analisis Karya Sastra. 6

2.2        Teori Psikoanalisis oleh Sigmund Freud (Membantu Memahami Pengaruh Bawah Sadar Pengarang Terhadap Isi dan Karakter dalam Karya Sastra Berdasarkan Buku Albert Mind The Road)  9

2.3       Penerapan teori psikoanalisis freud dalam menganalisis karya frans kafka( metamorfosis), Pramodya Ananta toer (Bumi manusia), Dan Chairil Anwar ( Puisi “aku”) 10

BAB III 15

PENUTUP. 15

3.1        Kesimpulan. 15

DAFTAR PUSTAKA.. 16

 

 

 

 

 

 

 

 


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sastra tidak hanya merupakan hasil kreativitas imajinatif, tetapi juga refleksi dari kondisi batin dan psikologis pengarangnya. Dalam pendekatan psikologi sastra, salah satu cabang penting adalah psikologi pengarang, yang mengkaji bagaimana pengalaman, emosi, dan konflik batin seorang penulis memengaruhi proses kreatif dan isi karyanya. Hal ini menunjukkan bahwa karya sastra tidak pernah hadir dalam ruang hampa, melainkan lahir dari dinamika batin, kesadaran, bahkan alam bawah sadar pengarang yang sering kali tidak tampak secara eksplisit di permukaan teks.

Teori psikoanalisis yang diperkenalkan oleh Sigmund Freud menjadi fondasi utama dalam pendekatan ini. Freud menjelaskan bahwa struktur kepribadian manusia terdiri dari tiga elemen penting, yaitu id (dorongan naluriah), ego (penengah realitas), dan superego (nilai moral dan norma sosial). Ketiganya saling bertarung dan membentuk perilaku serta cara individu mengekspresikan dirinya, termasuk dalam proses penciptaan karya sastra. Albertine Minderop dalam bukunya "Psikologi Sastra: Karya, Metode, Teori, dan Contoh Kasus" memberikan penjelasan komprehensif mengenai penerapan teori Freud dalam kajian sastra, khususnya dalam mengungkap konflik-konflik batin pengarang yang tersembunyi di balik struktur cerita dan karakter.

Pendekatan ini memungkinkan pembaca untuk memahami karya sastra sebagai cerminan dari pergulatan jiwa dan kejiwaan penulisnya. Karya sastra yang bertema psikologis sering kali menjadi medium untuk menyalurkan konflik batin pengarang yang tidak bisa diungkapkan secara langsung dalam kehidupan nyata. Misalnya, Franz Kafka melalui novel "Metamorphosis" menggambarkan keterasingan dan ketakutan yang merefleksikan kecemasan eksistensialnya. Pramoedya Ananta Toer dalam "Bumi Manusia" menghadirkan tokoh Minke sebagai representasi dari perjuangannya melawan ketidakadilan dan represi politik. Sedangkan puisi "Aku" karya Chairil Anwar merupakan simbol dari perlawanan batin terhadap norma sosial dan keinginan untuk hidup bebas. Ketiga karya ini menunjukkan bagaimana teori psikoanalisis dapat digunakan untuk memahami struktur bawah sadar dan konflik psikologis pengarang yang tertuang dalam bentuk karya sastra. Dengan demikian, pendekatan psikologi pengarang tidak hanya memperkaya pemahaman terhadap isi karya, tetapi juga memperdalam apresiasi terhadap proses kreatif penulis sebagai manusia yang utuh dan kompleks.

 

1.2  Rumusan Masalah

1.      Bagaimana pengaruh pengalaman pribadi dan kondisi kejiwaan pengarang tercermin dalam karya sastra?

2.      Bagaimana psikologi pengarang dijelaskan melalui teori psikoanalisis Sigmund Freud dalam buku karya Albertine Minderop?

3.      Bagaimana penerapan teori psikoanalisis Freud dalam menganalisis karya Franz Kafka (Metamorphosis), Pramoedya Ananta Toer (Bumi Manusia), dan Chairil Anwar (Puisi “Aku”)?

 

1.3 Tujuan

1.      Untuk mengetahui bagaimana pengaruh pengalaman pribadi dan kondisi kejiwaan pengarang tercermin dalam karya sastra

2.      Untuk mengetahui bagaimana psikologi pengarang dijelaskan melalui teori psikoanalisis Sigmund Freud dalam buku Albertine Minderop

3.      Untuk mengetahui bagaimana penerapan teori psikoanalisis Freud dalam menganalisis karya Franz Kafka (Metamorphosis), Pramoedya Ananta Toer (Bumi Manusia), dan Chairil Anwar (Puisi “Aku”)

 

 

 

 

 

 

 


BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1   Konsep Psikologi Pengarang dalam Analisis Karya Sastra

Psikologi pengarang merupakan salah satu wilayah psikologi kesenian yang membahas aspek kejiwaan pengarang sebagai suatu tipe maupun sebagai seorang pribadi (Wellek &Warren, 1990:90). Dalam kajian ini yang menjadi fokus adalah aspek kejiwaan pengarang yang memiliki hubungan dengan proses lahirnya karya sastra. Pengarang adalah anggota masyarakat biasa, sama seperti orang lain. Kemampuannya dalam menghasilkan karya sastra disebabkan oleh perbedaan kualitas, yaitu kualitas dalam memanfaatkan emosionalitas dan intelektualitas. Pada dasarnya siapa pun dapat menjadi seorang pengarang. Perbedaannya terletak pada kualitas karya yang dihasilkan. (Nofianti, Priyadi, & Wartiningsih, 2018)

Dalam jurnal yang ditulis oleh  (Basuki, 2015) kajian psikologi dalam studi sastra men-dalami segi-segi kejiwaan pengarang, karya, dan pembaca. Dengan pernyataan ini berarti tidak membatasi daerah kajian pendekatan psikologi pada masalah-masalah genetik saja, tetapi juga pada sastra sebagai suatu karya yang otonom dengan menelaah aspek-aspek psikologis yang ada pada para tokohnya, dan aspek pengaruh karya sastra pada kejiwaan sang pembaca. Pernyataan Tarigan ini senada dengan apa yang dikatakan oleh Rene Wellek dan Austin Warren (1962:81) bahwa ada empat aspek kajian psikologi dalam studi sastra, yaitu:

1.    Studi psikologis terhadap pengarang sebagai tipe dan pengarang sebagai individu

2.    Studi mengenai proses kreativitas

3.    Studi mengenai tipe dan hukum-hukum karya sastra, dan

4.    Studi mengenai efek karya sastra terhadap kejiwaan pembacanya.

Analisis psikologi pengarang dalam karya sastra berfokus pada bagaimana kondisi kejiwaan, pengalaman pribadi, serta konflik internal seorang penulis mempengaruhi proses kreatif dan hasil karyanya. Pendekatan ini berusaha menggali lebih dalam bagaimana latar belakang, emosi, serta dinamika psikologis pengarang tercermin dalam karakter, tema, dan alur cerita yang mereka ciptakan. Setiap pengalaman hidup, baik suka maupun duka, dapat menjadi sumber inspirasi yang membentuk isi karya sastra, menjadikannya lebih autentik dan bermakna. (Sari, 2023)

Selain itu, studi psikologi pengarang juga mencakup pengelompokan berdasarkan tipe psikologi dan fisiologis mereka, yang memberikan wawasan lebih luas mengenai pola pikir serta kecenderungan dalam berkarya. Dengan memahami aspek-aspek ini, kita tidak hanya dapat menginterpretasikan makna yang tersembunyi dalam karya sastra, tetapi juga melihat bagaimana sastra berfungsi sebagai cerminan kompleksitas pikiran dan emosi manusia. Oleh karena itu, pendekatan psikologi pengarang menjadi salah satu cara penting dalam mengapresiasi sastra, karena membantu kita memahami lebih dalam hubungan antara kehidupan pengarang dan dunia yang mereka bangun dalam karyanya. (Allegra, 2023)

Karya sastra pada dasarnya tidak hanya merupakan hasil imajinasi semata, melainkan juga cerminan dari kehidupan batin dan pengalaman pribadi pengarangnya. Dalam pendekatan psikologi pengarang, pengalaman hidup seperti trauma masa kecil, tekanan sosial, kehilangan, konflik keluarga, hingga kondisi mental tertentu bisa memengaruhi isi dan bentuk dari karya sastra yang dihasilkan. Bahkan, pengalaman-pengalaman itu seringkali muncul secara tidak langsung, lewat simbol, karakter, atau suasana cerita yang ditampilkan.

Jadi, dalam psikologi pengarang membahas tentang bagaimana kondisi psikologis seorang penulis memengaruhi karyanya. Ada beberapa teori yang bisa dipakai, salah satunya teori psikoanalisis oleh Sigmund Freud bisa dipakai untuk menganalisis bagaimana pengalaman masa lalu, trauma, atau konflik batin seorang pengarang terproyeksi dalam karyanya.

 

2.2   Teori Psikoanalisis oleh Sigmund Freud (Membantu Memahami Pengaruh Bawah Sadar Pengarang Terhadap Isi dan Karakter dalam Karya Sastra Berdasrkan Buku Albert Mind The Road)

Teori Psikoanalisis adalah sebuah teori yang berusaha menjelaskan hakikat dan perkembangan kepribadian manusia. Teori ini menekankan motivasi, emosi, dan aspek internal lainnya sebagai faktor utama dalam perkembangan kepribadian. Menurut teori ini, kepribadian berkembang melalui konflik-konflik psikologis yang biasanya terjadi pada masa anak-anak atau usia dini. Psikoanalisis menawarkan banyak kontribusi untuk bidang pendidikan dengan memahami dinamika internal individu yang mempengaruhi perilaku dan perkembangan mereka. (Ardiansyah,2023)

Menurut Albertine Minderop dalam bukunya Psikologi Sastra: Karya Sastra, Metode, Teori, dan Contoh, teori psikoanalisis Sigmund Freud dapat digunakan untuk memahami psikologi pengarang melalui karya sastranya. Minderop menjelaskan bahwa karya sastra sering kali menjadi cerminan alam bawah sadar pengarang, di mana berbagai konflik batin, hasrat terpendam, trauma masa kecil, dan mekanisme pertahanan diri bisa tercermin dalam tokoh, alur, dan simbol-simbol dalam cerita. Beberapa poin utama dari penjelasan Albertine Minderop tentang psikoanalisis pengarang berdasarkan teori Freud:

1. Id, Ego, dan Superego:

Struktur kepribadian Freud (id, ego, superego) digunakan untuk menganalisis dorongan-dorongan naluriah dalam diri pengarang yang mungkin tampak dalam tokoh-tokoh ciptaannya. Misalnya, tokoh yang impulsif bisa mencerminkan dominasi id, sedangkan tokoh yang penuh pertimbangan bisa mencerminkan ego atau superego pengarang.

2. Mimpi dan Simbolisme

Sama seperti mimpi, karya sastra bisa menjadi bentuk ekspresi simbolik dari keinginan atau ketakutan bawah sadar. Minderop menyebutkan bahwa simbol dalam karya sastra sering kali merupakan bentuk penyaluran keinginan yang ditekan oleh superego.

4.      Pengalaman Masa Kecil

Freud menekankan pentingnya pengalaman masa kecil dalam pembentukan kepribadian. Minderop menyatakan bahwa pengalaman masa kecil pengarang sering muncul dalam karyanya, baik secara eksplisit maupun terselubung, terutama dalam penggambaran hubungan keluarga atau dinamika psikologis anak-anak dalam cerita.

5.      Mekanisme Pertahanan Diri

Minderop juga menyinggung penggunaan mekanisme pertahanan diri seperti represi, proyeksi, dan sublimasi dalam tokoh-tokoh sastra sebagai representasi mekanisme yang mungkin digunakan oleh pengarang sendiri dalam menghadapi konflik batinnya.

Jadi, melalui pendekatan psikoanalisis Freud yang dikembangkan dalam konteks sastra oleh Albertine Minderop, pembaca dapat menyelami lebih dalam kondisi psikologis pengarang melalui analisis teks sastra yang dihasilkannya. Minderop, Albertine. Psikologi Sastra: Karya, Metode, Teori, dan Contoh Kasus. Buku ini merupakan sumber utama yang membahas penerapan teori psikoanalisis dalam analisis sastra, termasuk bagaimana aspek id, ego, dan superego dapat digunakan untuk memahami karakter tokoh dan refleksi psikologis pengarang dalam karya sastra.

Teori psikoanalisis adalah pendekatan dalam psikologi yang dikembangkan oleh Sigmund Freud yang menekankan pentingnya alam bawah sadar, konflik internal, dan pengalaman masa kecil dalam membentuk perilaku dan kepribadian seseorang. Teori ini berfokus pada struktur kepribadian yang terdiri dari id, ego, dan superego, serta mekanisme pertahanan yang digunakan ego untuk mengatasi kecemasan. Beberapa konsep utama dalam teori psikoanalisis meliputi:

1. Id  : Bagian dari kepribadian yang berisi dorongan naluriah dan keinginan dasar.

2. Ego : Bagian yang berfungsi sebagai penengah antara id dan realitas.

3.  Superego : Bagian yang berisi norma dan moralitas internal.

4.Konflik psikodinamik: Ketegangan antara dorongan bawah sadar dan tuntutan sosial.

5. Mekanisme pertahanan: Strategi yang digunakan ego untuk melindungi diri dari kecemasan, seperti penyangkalan, represi, dan sublimasi.( A. Elliott, 1994)

Menurut Albertine Minderop dalam bukunya Psikologi Sastra: Karya, Metode, Teori, Dan Contoh Kasus, salah satu cara untuk memahami psikologi pengarang adalah dengan menggunakan teori psikoanalisis dari Sigmund Freud. Teori ini menjelaskan bahwa setiap orang memiliki alam bawah sadar, yaitu bagian dari pikiran yang tidak disadari, tetapi sangat berpengaruh terhadap perilaku dan cara berpikir seseorang. Dalam konteks pengarang, Freud percaya bahwa pengalaman masa lalu, terutama yang terjadi pada masa kanak-kanak, serta konflik batin dan keinginan-keinginan tersembunyi, dapat memengaruhi cara seorang pengarang menulis. Hal-hal tersebut secara tidak langsung muncul dalam karyanya, misalnya melalui simbol, tokoh, alur cerita, atau tema tertentu. Misalnya, jika seorang pengarang memiliki trauma masa kecil, hal ini bisa tercermin dalam tokoh utama yang juga mengalami penderitaan serupa. Atau, jika pengarang menyimpan keinginan tertentu yang tidak bisa diungkapkan secara langsung, ia bisa menyampaikannya secara tersirat lewat cerita.

Freud juga menjelaskan adanya mekanisme pertahanan diri, seperti penyangkalan atau pengalihan, yang bisa terlihat dalam gaya penulisan atau isi cerita seorang pengarang. Oleh karena itu, karya sastra bisa menjadi cerminan dari kondisi kejiwaan pengarang. Dengan menganalisis karya sastra tersebut, kita bisa memahami lebih dalam tentang motivasi dan konflik batin yang dialami oleh si pengarang.

Teori psikoanalisis adalah pendekatan dalam psikologi yang berfokus pada pengaruh ketidaksadaran terhadap perilaku dan emosi maladaptif seseorang. Teori ini berasumsi bahwa individu sering tidak menyadari faktor-faktor yang menyebabkan perilaku dan perasaan yang tidak nyaman. Terapi psikoanalitik bertujuan untuk mengungkap bagaimana pengalaman masa kecil memengaruhi perkembangan kepribadian seseorang. Teknik dalam terapi ini digunakan untuk menunjukkan kepada klien bagaimana pikiran dan mekanisme pertahanan yang terbentuk sejak dini memengaruhi pola perilaku, hubungan interpersonal, dan kesehatan mental secara keseluruhan. Tujuan utama dari konseling psikodinamik adalah meningkatkan kesadaran diri klien dan pemahaman tentang pengaruh masa lalu terhadap perilaku saat ini, serta memperbaiki distorsi yang ada dalam persepsi klien.( A.L Johnson, 2011)

Teori Psikoanalisis adalah salah satu teori psikologi yang dikembangkan oleh Sigmund Freud pada awal abad ke-20. Teori ini berfokus pada pemahaman struktur, fungsi, dan perilaku yang berasal dari pikiran bawah sadar seseorang. Psikoanalisis menjelaskan bagaimana pengalaman masa kecil, dorongan naluri, dan konflik emosional memengaruhi perkembangan kepribadian seseorang. Teori ini juga menekankan pentingnya mengungkapkan konflik bawah sadar melalui teknik seperti analisis mimpi, asosiasi bebas, dan terapi bicara. Tujuan utama psikoanalisis adalah membantu individu mengatasi konflik bawah sadar dan memperbaiki keseimbangan antara id, ego, dan superego. Freud membagi pikiran manusia menjadi tiga bagian: id (bagian primitif yang beroperasi berdasarkan prinsip kesenangan), ego (mediator antara id dan superego), dan superego (bagian yang mengatur moral dan nilai sosial). Konflik antara ketiga bagian ini dapat menyebabkan kecemasan dan gangguan psikologis.(Abdi Husnul,2024)

 

2.3   Penerapan teori psikoanalisis Freud dalam menganalisis Karya frans kafka ( metamorfosis), Pramoedya ananta toer ( Bumi manusia), dan Chairil Anwar ( Puisi “aku”)

 

1. Novel “metamorfosisis” Karya Frans Kafka

Penerapan teori psikoanalisis Freud dalam menganalisis karya Franz Kafka, khususnya dalam "Metamorphosis," dapat dilakukan dengan melihat konflik batin dan dinamika psikologis tokoh utama, Gregor Samsa. Dalam analisis ini, aspek-aspek seperti id, ego, dan superego, serta mekanisme pertahanan psikologis, menjadi fokus utama. Gregor yang berubah menjadi serangga dapat diinterpretasikan sebagai manifestasi dari ketegangan antara keinginan bawah sadar (id) dan tuntutan realitas (ego) serta norma sosial (superego). Perubahan fisik Gregor mencerminkan konflik internal dan alienasi yang dialaminya, yang merupakan simbol dari tekanan psikologis dan ketidakmampuan beradaptasi dengan lingkungan sosial dan keluarganya. Selain itu, ketidakmampuan Gregor untuk berkomunikasi dan diterima oleh keluarganya menggambarkan konflik psikologis yang mendalam, termasuk perasaan bersalah, kecemasan, dan penolakan diri yang dapat dianalisis melalui lensa psikoanalisis Freud. Analisis ini membantu memahami karakter Gregor secara lebih mendalam sebagai representasi dari konflik psikologis manusia yang kompleks, terutama dalam konteks tekanan sosial dan eksistensial.

Dalam novel Metamorphosis, tokoh utama Gregor Samsa mengalami perubahan mendadak menjadi seekor kecoa. Transformasi ini secara psikoanalitik bisa dipahami sebagai manifestasi dari konflik batin Kafka sendiri. Dalam teori Freud, tokoh Gregor merepresentasikan konflik antara id (keinginan untuk bebas dari beban tanggung jawab keluarga), ego (usaha bertahan dalam kenyataan), dan superego (rasa bersalah dan norma yang menekan). Kafka dikenal memiliki hubungan yang sangat tegang dengan ayahnya, yang otoriter dan menekan. Perasaan tidak dihargai serta keterasingan sosial dan keluarga yang ia alami menjadi konflik psikologis yang kemudian disalurkan ke dalam tokoh Gregor. Perubahan menjadi kecoa bisa ditafsirkan sebagai simbol keinginan bawah sadar Kafka untuk “menghilang” dari tekanan hidup.

Dalam The Metamorphosis, transformasi Gregor Samsa menjadi serangga mencerminkan konflik batin dan tekanan psikologis yang mendalam. Analisis psikoanalisis Freud mengungkapkan bahwa perubahan fisik Gregor adalah manifestasi dari represi dan rasa bersalah yang terpendam, terutama terkait hubungannya dengan ayahnya. Konflik Oedipus kompleks terlihat dalam dinamika keluarga Gregor, di mana dominasi ayahnya dan ketidakmampuannya untuk memenuhi harapan keluarga menciptakan ketegangan internal yang mendalam. Metafora ini menggambarkan perjuangan antara id (keinginan bawah sadar), ego (kesadaran), dan superego (norma sosial) dalam diri Gregor.

            Adapun penerapan teori psikoanalisis dalam novel “Metamorphosis” menurut (Atikah, 2021), yaitu:

a.       Ide: Gregor Samsa memiliki keinginan untuk istirahat, bebas dari beban sebagai tulang punggung keluarga. Ia bekerja keras demi keluarganya, namun dalam batinnya, ia ingin lepas dari tuntutan dan tekanan. Keinginan ini muncul secara bawah sadar dan “meledak” dalam bentuk transformasi menjadi kecoa, simbol dari keinginannya untuk menghilang dari kehidupan sosial yang menekannya.

b.      Ego: Setelah menjadi kecoa, Gregor berusaha tetap rasional. Ia menyembunyikan dirinya agar tidak membuat keluarganya takut, berusaha memahami situasi meskipun tidak bisa lagi berbicara. Ego Gregor berperan sebagai penengah antara keinginannya untuk bebas (id) dan kenyataan bahwa ia masih ingin diterima keluarganya (superego).

c.       Superego: Gregor merasa bersalah karena tidak bisa bekerja lagi, merasa menjadi beban keluarga. Ia terus merenungkan bahwa ia telah mengecewakan mereka. Rasa bersalah ini merupakan bentuk dari tekanan moral yang tertanam dalam dirinya sejak lama.

Contoh kutipan:

“Jika aku tidak karena orang tua dan adikku, aku sudah lama berhenti kerja...”

Menunjukkan rasa tanggung jawab dan beban moral (superego) yang membelenggu Gregor.

 

2. Novel “ Bumi manusia” Karya Pramodya Ananta Toer

Analisis psikoanalisis terhadap tokoh Minke dalam Bumi Manusia menunjukkan konflik antara id, ego, dan superego dalam dirinya. Id Minke tercermin dalam hasrat dan keinginannya untuk menulis dan mencintai Annelies. Ego-nya berusaha menyeimbangkan keinginan tersebut dengan realitas kolonial yang menindas, sementara superego-nya dipengaruhi oleh norma-norma sosial dan budaya Jawa yang konservatif. Konflik internal ini mencerminkan perjuangan Minke dalam mencari identitas dan kebebasan di tengah tekanan sosial dan politik. Watak Tokoh Utama dalam Novel Bumi Manusia Karya Prmoedya Ananta Toer. (Kurniawali, 2017)

Pramoedya menulis Bumi Manusia saat dalam kondisi penahanan tanpa proses hukum. Melalui tokoh Minke, ia menyuarakan penindasan yang ia alami. Dalam teori Freud, tindakan ini dapat dianggap sebagai bentuk sublimasi: yaitu penyaluran konflik batin dan dorongan bawah sadar menjadi karya sastra.

Konflik antara id (keinginan memberontak terhadap penindasan kolonial), ego (usaha mengungkapkan perjuangan secara intelektual melalui tulisan), dan superego (tekanan dari sistem yang mengekang kebebasan) tampak dalam diri Minke. Karya ini bukan hanya fiksi, tapi juga media katarsis Pramoedya untuk melawan ketidakadilan dengan cara yang bisa diterima publik. Adapun penerapan teori psikoanalisis dalam novel “ Bumi Manusia” yaitu :

a.       Id

Minke memiliki dorongan kuat untuk menolak diskriminasi, memperjuangkan martabat bangsa, dan menyuarakan keadilan. Dorongan ini lahir dari batin Pramoedya sendiri sebagai orang yang mengalami represi politik, terutama saat ia ditahan tanpa proses hukum.

b.      Ego

Minke memilih jalur pendidikan dan tulisan sebagai alat perjuangan. Ia tidak memberontak secara fisik, tapi menggunakan narasi sebagai cara yang logis dan strategis dalam menyampaikan ide. Inilah peran ego—mengatur strategi realitas.

c.       Superego

Superego Minke terlihat saat ia tetap menghormati ayahnya, gurunya, dan sistem hukum, meskipun ia tahu sistem itu timpang. Ia masih dibatasi oleh norma dan aturan sosial yang melekat, meskipun perlahan mulai ia lawan.

Contoh kutipan:

“Kita ini manusia yang beradab, bukan binatang.” → menunjukkan pertarungan nilai moral dalam dirinya (superego) sekaligus kehendak untuk menggunakan cara terhormat (ego).

3.Puisi “ Aku” Karya Chairil Anwar

Penerapan teori psikoanalisis Sigmund Freud dalam menganalisis puisi "Aku" karya Chairil Anwar (sering disalahartikan sebagai karya Franz) bisa dilakukan dengan melihat unsur-unsur kejiwaan penulis yang tercermin dalam puisi. Teori Freud menekankan tiga struktur kepribadian utama: id, ego, dan superego, serta pentingnya pengalaman masa kecil, ketidaksadaran, dan dorongan-dorongan naluriah.

Berikut adalah contoh analisis dengan pendekatan psikoanalisis Freud terhadap puisi "Aku":

a.    Id : Dorongan Naluriah dan Pemberontakan,

Baris seperti: "Kalau sampai waktuku / 'Ku mau tak seorang 'kan merayu"

Menunjukkan dorongan bebas dan hasrat kuat dari id Chairil Anwar untuk merdeka dari norma sosial dan ekspektasi orang lain. Ia menolak untuk tunduk, yang menggambarkan dorongan bawah sadar untuk menjadi otentik dan independen.

b.    Ego – Realitas Diri dan Kesadaran.

Pada bagian:  "Aku ini binatang jalang / Dari kumpulannya terbuang"

menyiratkan kesadaran penyair terhadap posisinya yang terasing dari masyarakat. Ini adalah ego yang menyadari kenyataan hidupnya. Ia tahu bahwa dia berbeda dan menempatkan dirinya sebagai "binatang jalang", simbol pemberontakan tapi juga pengakuan akan keterasingan.

c.    Superego – Nilai dan Moral

Walau penuh pemberontakan, Chairil juga memperlihatkan konflik batin antara kebebasan pribadi dan norma sosial. Superego muncul sebagai tekanan batin atau rasa bersalah yang tidak ditunjukkan langsung, tapi terasa dalam nada puisi yang gelap dan penuh ketegangan emosional.

d.    Ketidaksadaran (Unconscious) dan Simbolisme.

Simbol-simbol seperti "binatang jalang" dan "aku" yang menolak dirayu dapat ditafsirkan sebagai representasi dari trauma, konflik batin, atau perasaan ditolak pada masa lalu, mungkin dari lingkungan atau keluarga. Freud percaya bahwa banyak ekspresi seni bersumber dari alam bawah sadar, dan dalam puisi ini, kemarahan dan pencarian identitas kuat terlihat.

e.         Konflik Psikis

Secara keseluruhan, puisi ini memancarkan konflik antara keinginan bebas (id), realitas hidup (ego), dan nilai sosial (superego), yang menjadi inti pendekatan Freud. Chairil tampak mencoba menyeimbangkan semua itu melalui ekspresi puitis. (Sigmund, 1917.)

Penerapan Teori Psikoanalisis Freud dalam Puisi “Aku” Karya Chairil Anwar. Puisi “Aku” merupakan salah satu karya terkenal Chairil Anwar yang sarat dengan semangat perlawanan dan individualisme. Puisi ini juga sering dijadikan objek kajian psikologi sastra, khususnya dalam pendekatan psikoanalisis Freud. Pendekatan ini meneliti unsur bawah sadar, konflik batin, dan struktur kepribadian pengarang melalui karya sasteranya.

Adapun Struktur Psikis Freud dalam Puisi “Aku” yakni:

a.    Id (Nafsu & Dorongan Bawah Sadar)

Dinyatakan melalui keberanian dan agresi dalam puisi:

“Aku ini binatang jalang / Dari kumpulannya terbuang.”

Ini menandakan dorongan liar dan bebas yang berasal dari dalam diri penyair, sebagai bentuk pemberontakan terhadap norma sosial.

b. Ego (Penengah)

Chairil mencoba menyeimbangkan antara dorongan bebasnya dengan realitas hidup.

“Aku mau hidup seribu tahun lagi”

Menunjukkan keinginan yang realistis, meski ambisius—bentuk dari ego yang dominan dan sadar akan eksistensinya.

c. Superego (Nilai Moral & Norma Sosial)

Baris seperti “Aku mau tak seorang 'kan merayu”

Mengindikasikan adanya perlawanan terhadap norma atau tuntutan masyarakat. Superego hadir dalam bentuk penolakan terhadap kendali eksternal.

d.  Konflik Batin dan Mekanisme Pertahanan.

Konflik batin dan mekanisme pertahanan ini dibagi menjadi 3 pembagian diantaranya:

(1)   Sublimasi: Chairil menyalurkan perasaan agresi, ketakutan, dan pemberontakan ke dalam puisi sebagai bentuk seni, bukan tindakan fisik.

(2)   Proyeksi: Konflik sosial dan politik zamannya diproyeksikan dalam puisi sebagai konflik personal.

(3)   Reaksi Formasi: Pernyataan ekstrem seperti “Biar peluru menembus kulitku” bisa menjadi pertahanan dari ketakutan sebenarnya—yaitu rasa tidak berdaya atau terpinggir.

e.Dorongan Eros dan Thanatos

− Eros (dorongan hidup): “Aku mau hidup seribu tahun lagi” adalah simbol keinginan hidup, kekal, dan bermakna.

Thanatos (dorongan kematian): Tema tentang peluru, kesendirian, dan keterasingan menunjukkan kesadaran akan kematian, namun tidak menyerah padanya.

Jadi Melalui pendekatan psikoanalisis Freud, puisi “Aku” menggambarkan konflik antara hasrat bawah sadar, nilai-nilai sosial, dan kenyataan hidup. Chairil Anwar sebagai tokoh yang keras dan individualis berhasil mengekspresikan dinamika psikologinya dalam bentuk puisi yang kuat dan emosional. (Freud, 1923)

Puisi "Aku" karya Chairil Anwar mencerminkan ekspresi dari alam bawah sadar penyair yang penuh dengan semangat pemberontakan dan keinginan untuk merdeka. Melalui lensa psikoanalisis Freud, puisi ini menggambarkan konflik antara id (keinginan untuk bebas dan hidup seribu tahun lagi), ego (kesadaran akan realitas kehidupan), dan superego (norma dan nilai sosial). Penggunaan bahasa simbolik dan metafora dalam puisi ini mencerminkan upaya penyair untuk mengekspresikan hasrat dan konflik internal yang terpendam. (Ningrum, 2020)

Puisi “Aku” dikenal sebagai simbol pemberontakan dan eksistensialisme. Dalam bait “Aku ini binatang jalang / Dari kumpulannya yang terbuang”, Chairil menunjukkan dominasi id—dorongan kuat untuk bebas dan tidak dikekang. Sementara tekanan sosial saat itu (masa penjajahan dan budaya konservatif) berperan sebagai superego yang ingin mengatur. Puisi ini menjadi bentuk ekspresi ego Chairil dalam menyeimbangkan dorongan bawah sadar dan realitas hidup.

Menurut teori Freud, Chairil menyalurkan konflik psikologisnya melalui bahasa puisi sebagai bentuk sublimasi. Ia tidak menyerang secara langsung, tapi melalui kekuatan kata-kata yang sarat emosi dan simbol. Chairil juga dikenal hidup bebas dan sering kali menolak aturan sosial, yang tercermin jelas dalam gaya puisinya.

Berikut adalah contoh analisis dengan pendekatan psikoanalisis Freud terhadap puisi

a.    Id:

Chairil menunjukkan hasrat hidup yang sangat kuat, kebebasan mutlak, dan keinginan untuk tidak tunduk pada siapa pun. Kalimat “Aku mau hidup seribu tahun lagi!” adalah ekspresi dari dorongan naluriah yang tidak terbatasi—id yang mendominasi.

b.    Ego:

Meski penuh pemberontakan, Chairil tetap menyampaikan keresahannya lewat puisi, bukan tindakan anarkis. Ego-nya berperan menjaga bentuk ekspresi tetap bisa diterima, yaitu melalui seni dan metafora, bukan konfrontasi langsung.

c.    Superego:

Terdapat benturan antara keinginan liar Chairil dan tekanan norma masyarakat saat itu. Ia merasa “terbuang” dan tidak diakui, menandakan adanya konflik batin antara keinginan dan nilai-nilai sosial yang mengekangnya.

Contoh kutipan:

“Aku ini binatang jalang / Dari kumpulannya yang terbuang” → Id-nya mengamuk, tapi tetap berada dalam ruang estetika (ego), melawan aturan sosial (superego). (Minderop, A.2010)


BAB III

PENUTUP

3.1  Kesimpulan

 

Karya sastra merupakan cerminan jiwa seorang pengarang. Ia bukan sekadar hasil dari imajinasi semata, melainkan juga ekspresi kondisi batin dan pengalaman hidup sang penulis, termasuk berbagai trauma, emosi, serta konflik batin yang pernah dialami. Dalam dunia kajian sastra, pendekatan psikologi pengarang menjadi salah satu cara untuk memahami lebih dalam bagaimana aspek kejiwaan seorang penulis memengaruhi proses kreatif maupun isi karya yang dihasilkannya. Pendekatan ini menitikberatkan pada analisis latar belakang psikologis pengarang, dengan fokus utama pada bagaimana pergulatan mental, pengalaman hidup, serta konflik internalnya terproyeksi ke dalam karyanya. Salah satu teori yang banyak digunakan dalam kajian ini adalah teori psikoanalisis Sigmund Freud, yang membagi struktur kepribadian manusia menjadi tiga bagian, yaitu id, ego, dan superego. Ketiga struktur ini sering kali dapat dikenali dalam tokoh-tokoh atau simbol-simbol yang hadir dalam karya sastra. Konflik bawah sadar yang dialami pengarang kerap muncul secara simbolis dalam alur cerita atau karakter-karakter yang ia ciptakan. Keinginan tersembunyi, ketakutan yang mendalam, serta pengalaman masa kecil menjadi bahan baku penting dalam proses kreatif yang, meskipun tidak selalu disadari secara penuh oleh pengarang, tercermin jelas dalam hasil karyanya. Penerapan pendekatan ini dapat dilihat dalam beberapa karya besar. Franz Kafka, dalam karyanya Metamorphosis, menggambarkan konflik batin dan keterasingan akibat tekanan sosial serta hubungan keluarga yang kompleks. Pramoedya Ananta Toer melalui Bumi Manusia menciptakan tokoh Minke sebagai media sublimasi dari perjuangan dan perlawanan terhadap penindasan kolonial yang ia rasakan. Sementara itu, dalam puisi "Aku", Chairil Anwar mengekspresikan individualisme dan pergulatan antara kebebasan pribadi dengan norma sosial yang mengikat. Melalui pendekatan psikoanalisis, pembaca dapat memahami karya sastra bukan hanya sebagai bentuk estetika, tetapi juga sebagai media refleksi psikologis pengarang. Di sisi lain, karya tersebut menjadi semacam proses penyembuhan bagi pengarang atas berbagai konflik batin yang pernah mereka alami. Dengan demikian, pendekatan ini membuka jalan untuk menafsirkan karya sastra secara lebih dalam dan kaya makna.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Afriliana, V. A., Nugroho, Y. A., & Supriyanto, T. (2024). Kajian Psikoanalisis Sigmund Freud dalam Novel A Untuk Amanda Karya Annisa Ihsani. Jurnal Bastra, 1-3.

Allegra, Y. (2023, 8 18). Psikologi Sastra: Keterkaitan Karya Sastra dan Kejiwaan Manusia. Diambil kembali dari mocopat.com: https://mocopat.com/psikologi-sastra-keterkaitan-karya-sastra-dan-kejiwaan-manusia/

atikah, n. (November 2021). A PSYCHOLOGICAL ANALYSIS OF THE MAIN CHARACTER IN FRANZ KAFKA’S METAMORPHOSIS. MEDIOVA Journal of Islamic Media Studies , 150-166.

Basuki, I. (2015). ASPEK PSIKOLOGIS PENGARANG DAN PENGARUHNYA TERHADAP PERWATAKAN TOKOH UTAMA NOVEL LADY CHATTERLAY’S LOVER. unec.id, 128.

Fatana, N. A., Arlin, & dkk. (2023, 4 18). Pendekatan Kritik Sastra. Diambil kembali dari scribd.com: https://www.scribd.com/document/828718353/MAKALAH-KELOMPOK-2-PENDEKATAN-KRITIK-SASTRA

Jayanti, M. D. (2020). Pendekatan Ekspresif dan Objektif dalam Novel "Mencari Perempuan yang Hilang". WACANA: Jurnal Bahasa, Seni, dan Pengajaran, 80-82.

Lafamane, F. (2020). KAJIAN STILISTIKA(Komponen Kajian Stilistika). osfpreprint, 5-6.

Mindderop. (2010). Teori Psikoanalisis Sigmund Freud. eprints.umm, 1-8.

Nofianti, N., Priyadi, A. T., & Wartiningsih, A. (2018). PSIKOLOGI SASTRA NOVEL REMAJA MY IDIOT BROTHER. untan.ac.id, 3.

raharjo, w. j. (2021). Being Away from Home in Australia: The Indonesian Diaspora in Canberra. jurnal ugm, 93-102.

Sari, R. H. (2023). Pendekatan Psikologi Sastra dalam Analisis Prosa Fiksi. Tasikmalaya: Perkumpulan Rumah Cemerlang Indonesia (PRCI).

Sugihastuti. (2001). proses kreatif dan teori interpretasi. media neliti, 1-2.

Windasari. (2018). Kajian Psikoanalisi Sigmund Freud. eprints.umn, 1-9.

 

 

 

 

 



Komentar