Sejarah,
seperti sungai yang mengalir, terkadang jernih, terkadang keruh. Alirannya
ditentukan oleh catatan-catatan dan peninggalan-peninggalan yang tersisa. Indonesia,
negeri kepulauan yang kaya akan budaya, memulai perjalanannya dalam arus
sejarah jauh sebelum kehadiran catatan tertulis. Bayangan masa lalu,
samar-samar terukir dalam benda-benda purbakala, bisu namun menyimpan sejuta
cerita. Salah satu saksi bisu masa lalu itu adalah candi, bangunan megah yang
menyimpan misteri dan keagungan.
Para
ahli telah lama menelusuri asal-usul kata "candi" ada yang
mengaitkannya dengan Bhatari Durga, Dewi Maut,
menunjukkan fungsi candi sebagai tempat peristirahatan terakhir para
raja, kerabat, dan tokoh penting. Candi, dalam konteks ini, bukan sekadar
bangunan, melainkan gerbang menuju alam baka. Dalam bahasa Kawi,
"candi" berarti dikuburkan.
Namun, yang dikuburkan bukanlah jasad utuh, melainkan abu sisa
pembakaran jenazah. Abu tersebut
ditempatkan dalam peripih, peti batu yang berisi benda-benda keramat, simbol
spiritualitas dan kekuasaan.
Peripih,
kemudian, ditanamkan di dalam lubang candi, dan di atasnya didirikan arca dewa.
Arca ini bukan sekadar patung, melainkan perwujudan dari roh orang yang telah
meninggal, arca perwujudan yang menjadi pusat pemujaan dan upacara keagamaan.
Arca induk, jantung dari kompleks candi, tempat para pendeta dan masyarakat
menjalankan ritual mereka, menghubungkan dunia fana dengan dunia spiritual.
Dari
sekian banyak candi yang tersebar di Nusantara, Candi Jawi di Pasuruan, Jawa
Timur, berdiri sebagai salah satu yang paling menarik untuk dikaji. Mentari
senja menyapa puncak Gunung Welirang, memancarkan cahaya keemasan yang
menyinari Candi Jawi. Angin sepoi-sepoi membawa aroma harum bunga teratai dari
parit yang mengelilingi candi megah itu.
Aku, berdiri di sana,
membayangkan kisah-kisah yang terukir dalam batu andesit tua itu, kisah tentang
raja-raja, dewa-dewa, dan misteri yang masih tersimpan rapat.
Candi
Jawi, begitulah namanya, namun juga dikenal sebagai Candi Prigen, sesuai dengan
letaknya di Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan. Jaraknya sekitar 31 kilometer
dari kota Pasuruan, perjalanan satu jam dengan mobil akan membawa ke tempat
yang menyimpan sejarah panjang kerajaan Hindu - Buddha di Jawa Timur. Bagi
saudara yang naik bus dari arah Surabaya maupun Malang dan ingin berkunjung ke
candi ini, bisa turun di Terminal Pandaan lalu naik angkutan Jurusan Tretes
atau Trawas kemudian turun di depan Komplek Candi Jawi. Bayangan Raja
Kertanegara, raja terakhir Singasari. Candi ini, katanya dibangun sebagai
tempat pendharmaan baginya, sebagai perwujudan Siwa - Buddha setelah wafatnya
pada tahun 1292 Masehi. Tahun 1304 Masehi, angka yang terukir dalam batu,
menandai selesainya pembangunan candi yang megah dan ramping ini.
Saat
berjalan mengelilingi candi terlihat tingginya 24,5 meter, panjang 14,24 meter,
dan lebar 9,55 meter, berdiri kokoh di atas lahan seluas 40 x 60 meter persegi.
Pagar bata setinggi dua meter melindungi candi dari sentuhan waktu.
Arsitekturnya begitu megah, meskipun tak se-spektakuler Candi Borobudur atau
Prambanan, namun pesonanya tak terbantahkan, terutama dengan latar belakang
pegunungan yang menawan. Candi ini menghadap ke timur, sebuah orientasi yang
menunjukkan bahwa ia bukanlah tempat pemujaan atau pradaksina, melainkan sebuah
monumen peringatan.
Pandangan
yang tertuju pada tiga tingkatan candi. Kaki candi, bagian terbawah,
melambangkan manusia yang masih dikuasai nafsu rendah. Lalu, badan candi, sebagai simbol perjuangan
manusia melawan nafsu keduniawian. Dan
puncaknya, atap candi, melambangkan pencapaian kesempurnaan spiritual.
Simbolisme yang begitu dalam, terukir dalam batu-batu andesit yang telah
berusia ratusan tahun.
Kisah
Kertanegara dan Candi Jawi begitu menarik. Alasan mengapa candi ini jauh dari
pusat kerajaan di Malang konon, karena di daerah ini banyak penduduk yang
menganut ajaran Siwa Buddha, sama seperti keyakinan Kertanegara. Candi ini
menjadi basis pendukungnya, sebuah tempat perlindungan di tengah gejolak
politik dan peperangan. Kertanegara,
meskipun raja yang berjaya, juga memiliki banyak musuh.
Namun,
kisah Candi Jawi tak berhenti pada Kertanegara. Kitab Negarakertagama mencatat
kunjungan Raja Hayam Wuruk dari Majapahit pada tahun 1359 Masehi. Ia datang untuk memberikan penghormatan
kepada kakek buyutnya, namun dengan hati yang sedih karena salah satu arca di
candi telah hilang tersambar petir. Bayangkan, betapa pentingnya candi ini bagi
sejarah kerajaan Majapahit.
Relief-relief
di Candi Jawi menyimpan misteri. Ada
relief yang menggambarkan denah candi itu sendiri, sesuatu yang mustahil bagi
masyarakat pada masa itu. Ada pula legenda tentang putri kerajaan Majapahit
yang sering mengunjungi candi ini, motifnya masih menjadi teka - teki. Dan,
kisah pertemuan Dewi Candrawati dan Pangeran Sutasoma dari kitab Sutasoma juga
dikaitkan dengan candi ini.
Batu-batu
candi merasakan dinginnya batu andesit yang telah menyaksikan perjalanan waktu
yang panjang. Para pekerja yang membangun candi ini, dengan susah payah
mengukir batu demi batu, membentuk candi yang megah ini. Para arkeolog yang
telah melakukan penelitian dan pemugaran candi ini, mengembalikan kemegahannya setelah
berabad - abad terkikis waktu. Pemugaran
pada tahun 1938 - 1941 oleh Hindia Belanda Oudheidkundige Dienst (OD) dan
kemudian pada tahun 1980 oleh Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan
Sejarah dan Purbakala, telah menyelamatkan candi ini dari kerusakan lebih
lanjut.
Candi
Jawi, lebih dari sekadar bangunan tua. Ia adalah saksi bisu sejarah, tempat
bertemunya berbagai kepercayaan dan kebudayaan, tempat terukirnya kisah-kisah
raja dan rakyat, tempat misteri dan keajaiban berpadu. Ia adalah warisan budaya
yang tak ternilai harganya, yang patut dijaga dan dilestarikan untuk generasi
mendatang. Setiap orang yang datang ke sini, dapat merasakan keagungan dan
misteri yang terpancar dari setiap batu Candi Jawi. Semoga kisah - kisah yang
tersimpan di dalamnya terus menginspirasi dan mengingatkan pentingnya sejarah
dan kebudayaan bangsa. Matahari telah sepenuhnya tenggelam di ufuk barat,
meninggalkan Candi Jawi dalam keheningan malam, namun kisah-kisahnya tetap
hidup dalam ingatan.
Di
bawah langit gelap yang dihiasi cahaya perak bulan purnama, kompleks Candi Jawi
berubah wujud. Bukan hanya reruntuhan
batu andesit yang menyimpan bisikan sejarah, tetapi juga panggung megah bagi
Pentas Seni Bulan Purnama dengan tujuan untuk melestarikan budaya. Setiap
bulannya, ketika rembulan mencapai puncak keindahannya, kisah legenda Candi
Jawi dihidupkan kembali melalui tari-tarian yang memukau. Para penari, dengan
kostum yang menawan, mengajak penonton untuk menyelami masa lalu yang penuh
misteri dan romantisme.
Di
tengah sorot lampu yang lembut, terungkaplah
kisah seorang putri Bali yang sangat cantik jelita. Wajahnya, bak rembulan
purnama, memancarkan cahaya yang memikat hati.
Rambutnya yang hitam legam terurai indah, menyerupai air terjun yang
mengalir deras. Tubuhnya yang lentur menari
dengan anggun, menceritakan kisah perjalanan panjangnya. Namun, kecantikan putri Bali ini justru
menjadi kutukan. Banyak raja dari berbagai kerajaan, terpikat oleh pesonanya, ingin mempersuntingnya menjadi permaisuri. Keinginan
mereka yang penuh ambisi, membuat sang putri merasa terancam.
Tarian
semakin intensif, menunjukkan keputusasaan dan ketakutan sang putri. Ia tak ingin menjadi pion dalam permainan
politik kekuasaan. Ia mendambakan cinta sejati,
bukan paksaan dan dominasi. Maka,
dengan hati yang berat, ia memutuskan
untuk meninggalkan tanah kelahirannya,
Bali, dan mencari perlindungan di
Pulau Jawa. Langkah kakinya yang ringan, menunjukkan tekadnya yang kuat, untuk
memulai hidup baru, jauh dari
bayang-bayang para raja yang haus kekuasaan.
Gerakan-gerakan
penari semakin cepat dan dinamis,
menunjukkan perjalanan panjang dan penuh tantangan yang dihadapi sang
putri. Laut lepas yang ia arungi,
gunung-gunung yang ia lewati,
semuanya tergambar dalam tarian yang penuh ekspresi. Ia menghadapi badai
dan ombak kehidupan, namun tekadnya
tetap teguh. Ia tak pernah menyerah, terus melangkah maju, mencari tempat yang aman dan damai.
Akhirnya,
sang putri tiba di kaki Gunung Welirang,
tempat yang dipenuhi dengan keindahan alam dan ketenangan. Di sanalah ia
menemukan kedamaian yang selama ini dicarinya. Tarian pun melambat, menunjukkan ketenangan dan kedamaian batin
sang putri. Ia diterima oleh masyarakat
setempat, yang menghargainya bukan karena kecantikannya, melainkan karena kebaikan hatinya.
Adegan
selanjutnya menggambarkan pembangunan Candi Jawi. Para penari membentuk formasi
yang menggambarkan para pekerja yang dengan tekun dan penuh semangat membangun
candi yang megah itu. Candi tersebut bukan hanya sebagai tempat
peristirahatan, tetapi juga sebagai
simbol penghormatan kepada sang putri, yang telah membawa kedamaian dan
kesejahteraan bagi masyarakat sekitar.
Tarian
berakhir dengan para penari membentuk formasi yang menggambarkan Candi Jawi
yang berdiri kokoh di bawah cahaya bulan purnama. Suasana menjadi khidmat dan penuh haru. Penonton terhanyut dalam kisah legenda yang
penuh makna, mengenai kecantikan, kebebasan,
dan pencarian jati diri. Pentas
Seni Bulan Purnama di Candi Jawi bukan hanya sekadar pertunjukan seni, tetapi
juga sebuah ritual untuk menghormati sejarah dan melestarikan warisan budaya
bangsa. Di bawah cahaya bulan
purnama, kisah sang putri Bali terus
hidup, menginspirasi generasi mendatang untuk menghargai nilai-nilai luhur
kemanusiaan.
Penulis:
Refa Fahreisy

Komentar
Posting Komentar