Pendahuluan
Pasuruan, sebuah kota yang terletak di Provinsi Jawa Timur, dikenal dengan dua julukan yang mencerminkan identitas dan kekhasannya, yaitu "Kota Santri" dan "Madinah van Java." Kedua julukan ini bukan tanpa alasan, melainkan didasarkan pada sejarah panjang dan nilai-nilai agama yang melekat kuat di kota ini. Pasuruan menjadi pusat pendidikan Islam melalui banyak pondok pesantren yang tersebar, serta menjadi kota ziarah yang dikenal dengan makam para ulama dan waliyullah. Keberadaan dua julukan ini semakin memperkuat eksistensi Pasuruan sebagai kota yang mengedepankan nilai-nilai agama, keharmonisan, dan kebersamaan.
Kenapa Pasuruan Dijuluki Kota Santri?
Pasuruan
dijuluki "Kota Santri" karena sejarahnya yang erat kaitannya dengan
penyebaran agama Islam di Indonesia. Sejak runtuhnya Kerajaan Majapahit,
Pasuruan menjadi bagian dari kerajaan-kerajaan Islam seperti Kerajaan Demak dan
Mataram yang berperan dalam penyebaran Islam di wilayah Jawa Timur. Kota ini
juga dikenal dengan banyaknya pondok pesantren yang menjadi pusat pendidikan
agama. Salah satu pondok pesantren tertua di Pasuruan adalah Ponpes Sidogiri,
yang didirikan pada tahun 1745 dan masih beroperasi hingga saat ini.
Pesantren-pesantren di Pasuruan tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar,
tetapi juga sebagai tempat untuk memperdalam spiritualitas dan pengabdian umat
Islam. Oleh karena itu, Pasuruan sering disebut sebagai "Kota Santri,"
merujuk pada banyaknya santri yang belajar dan mengamalkan ilmu agama di kota
ini.
Kenapa Juga Disebut Madinah Van Java?
Pasuruan juga dijuluki "Madinah van Java" atau "Madinah di Pulau Jawa," yang menunjukkan kemiripannya dengan Kota Madinah, Arab Saudi, sebagai kota suci bagi umat Islam. Julukan ini mengacu pada peran Pasuruan sebagai kota ziarah utama di Jawa Timur, dengan banyaknya makam para ulama dan waliyullah yang menjadi tempat tujuan peziarah. Salah satu yang terkenal adalah makam KH Abdul Hamid, seorang ulama besar yang memiliki pengaruh besar dalam perkembangan Islam di Pasuruan. Selain itu, julukan "Madinah van Java" juga mencerminkan upaya pemerintah Kota Pasuruan untuk meniru Kota Madinah dalam hal kebersihan, keharmonisan sosial, dan nilai-nilai toleransi. Visi "Pasuruan Harmoni" yang digagas oleh pemerintah kota bertujuan untuk menciptakan suasana yang damai dan penuh toleransi antarumat beragama, mirip dengan atmosfer yang ada di Madinah.
Salah satu simbol dari julukan
"Madinah van Java" adalah keberadaan Payung Madinah yang terletak di
Alun-alun Kota Pasuruan, di depan Masjid Agung Al-Anwar. Payung-payung ini
mirip dengan yang ada di Masjid Nabawi di Madinah, dan menjadi ikon baru yang
memperkuat citra Pasuruan sebagai "Madinah van Java." Proyek payung
ini adalah simbol kebersihan dan keteraturan yang ingin dicapai Pasuruan, serta
melambangkan semangat religiusitas dan kecintaan terhadap nilai-nilai Islam.
Kesimpulan
Julukan "Kota Santri" dan "Madinah van Java" mencerminkan dua aspek utama yang menjadikan Pasuruan sebagai kota yang sarat dengan nilai-nilai keagamaan dan budaya. Sebagai "Kota Santri," Pasuruan dikenal dengan banyaknya pesantren yang melahirkan generasi santri yang berkomitmen untuk mengamalkan ilmu agama. Sebagai "Madinah van Java," Pasuruan berusaha menciptakan atmosfer yang mirip dengan Kota Madinah, baik dari sisi spiritualitas maupun kebersihan kota. Proyek Payung Madinah yang terletak di Alun-alun Pasuruan dan Masjid Agung Al-Anwar adalah simbol yang memperkuat identitas Pasuruan sebagai kota ziarah dan pusat keagamaan, serta mencerminkan visi pemerintah kota dalam menciptakan kota yang harmonis, bersih, dan penuh toleransi. Pasuruan, dengan segala sejarah dan budaya keagamaannya, terus memperkuat posisinya sebagai pusat keagamaan di Jawa Timur, menjadikan kota ini sebagai tempat yang penuh berkah bagi umat Islam.
Penulis
: Nasriyatul Azijah



Komentar
Posting Komentar