Masjid
unik yang terletak di Jalan Raya Kasri No.18, Petung Sari, Kecamatan Pandaan
ini selalu ramai dikunjungi. Berada di pusat keramaian, masjid ini tidak pernah
sepi, terutama karena dikelilingi oleh kios-kios yang menjual makanan dan
oleh-oleh khas daerah tersebut. Masjid ini diresmikan pada 27 Januari 2008 oleh
Bupati Pasuruan saat itu, dengan peletakan batu pertama dilakukan oleh Presiden
KH Abdurrahman Wahid pada 30 Mei 2004.
Bangunan
masjid yang didominasi warna merah menyala ini memadukan tiga gaya arsitektur:
Jawa, Arab, dan Tionghoa. Masjid Cheng Hoo Pandaan memiliki dua lantai, dengan
atap berbentuk pagoda yang khas. Masjid ini dibangun di atas tanah milik
Perhutani, dengan dukungan dana dari Pemerintah Kabupaten Pasuruan. Saat ini,
pengelolaannya berada di bawah tanggung jawab takmir masjid.
Nama
Cheng Ho diambil dari Laksamana Cheng Ho, seorang Muslim terkenal asal Tiongkok
yang melakukan ekspedisi besar pada tahun 1405–1433. Laksamana Cheng Ho lahir
dengan nama Ma Ho pada tahun 1371 di Provinsi Yunnan, Tiongkok bagian barat
daya. Nama "Ma" di depan Ma Ho merupakan tambahan yang sering
digunakan umat Islam, yang berasal dari kata Mohammed.
Saat
berusia 10 tahun, Ma Ho bersama anak-anak lain ditangkap oleh tentara Cina
dalam upaya merebut wilayah Yunnan. Ia kemudian dididik menjadi tentara dan
mempelajari strategi perang. Selain itu, Ma Ho juga dikenal sebagai pelaut
ulung. Dalam ekspedisi yang dipimpinnya, Cheng Ho memimpin sekitar 300 kapal
dengan 27 ribu awak. Ia melakukan tujuh penjelajahan besar dari tahun 1405
hingga 1433, mengunjungi berbagai negara, termasuk Indonesia, Thailand, India,
Arab, dan Afrika Timur. Beberapa sumber bahkan menyebutkan bahwa kapal Cheng Ho
pernah singgah di Semenanjung Harapan, Afrika Selatan.
Dalam
pelayarannya, Laksamana Cheng Ho tidak hanya memperluas wilayah kekuasaan,
tetapi juga menyebarkan agama Islam kepada penduduk setempat. Berkat
kontribusinya, Cheng Ho sangat dihormati, terutama oleh komunitas Muslim
Tionghoa. Masjid Cheng Hoo Pandaan menjadi salah satu bentuk penghormatan
terhadap warisan dan perjuangan Laksamana Muhammad Cheng Ho dalam menyebarkan
Islam. Masjid Muhammad Cheng Hoo memulai pembangunannya dengan peletakan batu
pertama oleh KH Abdurrahman Wahid, atau Gus Dur, pada 30 Mei 2004. Saat itu,
Gus Dur sudah tidak lagi menjabat sebagai Presiden setelah diberhentikan oleh
MPR/DPR pada tahun 2001.
Di
masa kepemimpinannya, Gus Dur dikenal sebagai tokoh yang lantang menyuarakan
toleransi dan multikulturalisme di Indonesia. Salah satu langkah bersejarahnya
adalah mengumumkan bahwa Tahun Baru Cina (Imlek) menjadi hari libur nasional
pada Januari 2001. Keputusan tersebut juga diiringi dengan pencabutan larangan
penggunaan huruf Tionghoa, sebagai upaya memperkuat semangat kebinekaan dan
menghormati budaya Tionghoa di Indonesia.
Nama
Laksamana Cheng Ho diangkat menjadi masjid salah satunya untuk mengenang
jasanya dalam menyebarkan ajaran Islam, simbol toleransi, dan berkumpulnya
masyarakat China muslim. Tak hanya Jawa Timur, kamu juga bisa menemukan
Masjid Cheng Ho di beberapa daerah lain, seperti Samarinda, Kalimantan Timur;
dan Semarang, Jawa Tengah.
jika dilihat, terdapat perpaduan arsitektur dan warna bangunan China yang
kental di bangunan masjid. Struktur bangunannya memadukan tiga budaya berbeda,
yakni China, Timur Tengah (Arab),dan Jawa.
Warna
merah mendominasi masjid ini, dari tiang, tembok, dinding, karpet, hingga
adanya beberapa lampion yang menjadi ciri khas China. Warna kuning juga
menghiasi pilar, dinding, ukiran, dan beberapa ornamen lain. Tak hanya dua
warna yang erat dengan pagoda atau klenteng, warna hijau yang identik dengan
Islam pun turut menghiasi masjid. Di pintu masuk, terdapat tulisan Masjid
Muhammad Cheng Hoo yang ditulis dengan huruf Mandarin.
pemberian nama Masjid Cheng Hoo bukan menandakan bahwa tempat ibadah ini didirikan
atau pernah didatangi oleh Laksamana Cheng Ho. Masjid ini dinamai Cheng Hoo
sebagai lambang toleransi umat beragama di kota Pasuruan
Di lantai kedua Masjid Cheng Hoo
Pandaan, terdapat ruangan utama untuk salat. Dinding ruangan ini didominasi
oleh warna merah dan putih, dengan karpet berwarna hijau yang menambah kesan
nyaman. Pilar-pilar berwarna emas yang tinggi menjulang memberikan kesan luas
dan lapang pada ruangan utama ini.
Selain
itu, dari lantai ini dapat merasakan
kesegaran udara khas Tretes, Pasuruan. Ketika jendela masjid dibuka, panorama
Gunung Penanggungan dan Gunung Arjuno, serta pemandangan puncak Tretes Prigen,
dapat terlihat dengan jelas. Pemandangannya sangat indah dan memukau.
Pada
senja, malam hari, hingga menjelang fajar, pengunjung dapat menyaksikan
keindahan masjid yang dihiasi lampu-lampu serta lampion khas Tiongkok yang
menyala. Pada waktu-waktu tersebut, Masjid Muhammad Cheng Hoo tampak semakin
mempesona dengan suasana yang penuh keindahan dan kedamaian.
Masjid Cheng Hoo memiliki dua
lantai. Lantai dasar masjid ini digunakan sebagai ruang pertemuan yang
terkadang disewakan untuk berbagai acara lainnya. Bagi para pelancong yang
lelah dalam perjalanan, ruang ini juga dapat digunakan untuk beristirahat sejenak
atau tidur. Bagi para backpacker atau traveler yang memiliki keterbatasan dana
untuk bermalam di Pasuruan, ruangan ini bisa menjadi alternatif tempat
bermalam. Syaratnya cukup melapor kepada petugas jaga dan menitipkan kartu
identitas sebagai jaminan.
Di
sisi depan bagian atas lantai dasar, terdapat ornamen bertuliskan lafaz Allah,
sementara atapnya memiliki bentuk khas seperti bangunan pagoda. Beberapa bagian
masjid juga dihiasi ornamen lampion dengan cahaya dan pendar yang khas,
menambah suasana unik masjid ini.
Sebagai
masjid yang sering dijadikan tempat istirahat (rest area) oleh para pengguna
jalan, Masjid Cheng Hoo menawarkan fasilitas yang cukup lengkap. Fasilitas
tersebut meliputi sarana ibadah, tempat wudhu, kamar mandi, toilet, sistem
suara (sound system) dan multimedia, kantor sekretariat, perpustakaan, tempat
penitipan sepatu, toko suvenir, kedai makanan, hingga area parkir yang luas.
Masjid
Cheng Hoo Pandaan berada di lokasi yang sangat strategis. Sebagian besar
pengunjungnya adalah para pelancong yang sedang melakukan perjalanan dari
Surabaya ke Malang, atau sebaliknya, serta ke kota-kota lain yang melewati
Pandaan. Letaknya yang berada di tepi jalan raya utama, pada pertigaan menuju
Pasuruan, Malang, dan Surabaya, membuat masjid ini mudah ditemukan. Jaraknya
hanya sekitar 300 meter dari Terminal Pandaan.
Kawasan
masjid ini juga berdekatan dengan deretan pasar yang menjual berbagai macam
barang, seperti makanan, pakaian, buah-buahan, suvenir, dan pernak-pernik khas
daerah..
Selain
pasar, terdapat juga museum yang terletak di samping pintu gerbang paling
selatan Masjid Muhammad Cheng Hoo, yang dikelola oleh Dinas Pendidikan dan
Kebudayaan Kabupaten Pasuruan. Museum ini menjadi daya tarik tambahan bagi para
pengunjung yang ingin mengenal sejarah dan budaya lokal.
Penulis: Rudaifis Sariroh

Komentar
Posting Komentar