Jembatan Kedunglarangan: Sejarah, Keunikan, dan Peran Vitalnya

 


Jembatan Kedunglarangan yang terletak di Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, merupakan salah satu ikon penting kawasan tersebut. Letaknya yang strategis di jalur utama Surabaya-Banyuwangi menjadikannya sebagai penghubung vital, baik untuk masyarakat setempat maupun pengguna jalan lainnya. Tidak hanya memiliki fungsi penting secara infrastruktur, jembatan ini juga menyimpan nilai sejarah yang mendalam, karena salah satu bagiannya merupakan peninggalan zaman penjajahan Belanda.

Sejarah dan Keunikan Jembatan Kedunglarangan

      Jembatan Kedunglarangan terbagi menjadi dua sisi, yaitu sisi selatan yang dibangun pada tahun 1989 dan sisi utara yang merupakan peninggalan Belanda. Meski tidak diketahui pasti kapan dibangun, diperkirakan jembatan di sisi utara telah berdiri sejak era 1900-an. Uniknya, bangunan tua ini masih terlihat kokoh tanpa keropos, menunjukkan kualitas konstruksi yang luar biasa pada masanya. Beton dengan susunan batu khas Belanda menjadi ciri utama dari jembatan bersejarah ini.

     Menurut Susanto Dwi Laksono, seorang pemerhati sejarah Bangil, jembatan ini tidak hanya menjadi saksi bisu masa kolonial, tetapi juga pernah menjadi bagian dari perlawanan rakyat Indonesia. Pada masa penjajahan, jembatan ini sempat dibom oleh tentara Indonesia untuk menghambat mobilisasi tentara Belanda, meski upaya tersebut tidak berhasil merusak bangunan.

Nama Kedunglarangan diambil dari sungai yang mengalir di bawahnya. Kata "Kedung" berarti cekungan, sementara "Larangan" merujuk pada larangan untuk mandi di sungai tersebut, karena di bawah Masjid Manarul yang terletak di dekat jembatan terdapat cekungan berbahaya. Hal ini semakin menegaskan bahwa nama Kedunglarangan tidak hanya memiliki nilai historis, tetapi juga mencerminkan kondisi geografis kawasan tersebut.

Perbedaan Kualitas Konstruksi

       Jika dibandingkan, jembatan sisi utara yang merupakan peninggalan Belanda terbukti lebih kokoh daripada jembatan modern di sisi selatan. Jembatan baru yang dibangun pada tahun 1989 kerap mengalami kerusakan dan membutuhkan perbaikan, berbeda dengan jembatan tua yang hingga kini masih berdiri tegak tanpa tanda-tanda kerusakan. Hal ini menunjukkan keunggulan teknologi konstruksi masa lalu yang mampu bertahan dalam berbagai kondisi.

Salah satu keunikan dari jembatan lama adalah keberadaan lima lekukan atau pintu yang dirancang untuk menahan beban. Struktur ini memberikan daya tahan yang luar biasa terhadap tekanan, sehingga bangunan tetap kokoh meski telah berusia lebih dari satu abad.

Aktivitas Masyarakat di Sungai Kedunglarangan

Selain menjadi jalur penghubung, Jembatan Kedunglarangan juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sekitar. Sungai di bawahnya sering dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas, seperti mandi dan mencari ikan. Hal ini sudah menjadi kebiasaan turun-temurun, meski sungai tersebut cukup berbahaya, terutama saat arus sedang deras.

       Arif, salah seorang warga Manaruwi, mengisahkan bahwa saat kecil ia sering bermain di bawah jembatan bersama teman-temannya. Meskipun demikian, risiko tenggelam tetap ada, terutama ketika air sedang pasang. Susanto Dwi Laksono mengungkapkan bahwa beberapa kejadian tragis pernah terjadi di lokasi tersebut, termasuk anak-anak yang tenggelam akibat arus sungai yang deras. Namun, hal ini tidak menyurutkan minat masyarakat, terutama anak-anak, untuk bersenang-senang di sungai.

Penutup

     Jembatan Kedunglarangan bukan hanya infrastruktur yang menghubungkan dua sisi kota, tetapi juga menjadi simbol sejarah dan bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Bangil. Keberadaannya yang kokoh hingga kini, terutama di sisi utara, menjadi bukti keunggulan konstruksi masa lalu. Di sisi lain, sungai yang mengalir di bawahnya menjadi saksi aktivitas keseharian masyarakat setempat, meski menyimpan potensi bahaya. Keunikan dan nilai sejarah Jembatan Kedunglarangan menjadikannya sebagai salah satu warisan budaya yang patut dilestarikan.

 

Penulis : Savana Aricha Nasution

Komentar