Pasuruan menjadi salah satu kota komersial pertama di
Jawa yang berkembang pesat. Sebagai pusat perdagangan kopi dan gula, kota Pasuruan
juga menjadi jalur utama pengangkutan produk-produk yang berasal dari daerah
Tengger dan Malang. Produk-produk yang dihasilkan di daerah Tengger dan Malang
diangkut melalui kota Pasuruan, menjadikannya sebagai jalur penting untuk
distribusi. Selain sebagai kota perdagangan, Pasuruan juga menawarkan hiburan
dan menjadi tempat bagi banyak pengusaha serta pedagang untuk berkantor.
Dengan pesatnya perkembangan industri, banyak
bangsawan, saudagar kaya, dan orang Belanda serta Eropa yang menetap di
Pasuruan. Dengan semakin banyaknya orang Eropa yang tinggal di Pasuruan,
kebutuhan akan fasilitas sosial pun meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan
tersebut, dibangunlah "Gedung Sociteit Harmonie" sebagai tempat
berkumpul dan bersantai bagi kalangan elit, yang juga menjadi simbol dari
kemajuan sosial dan ekonomi kota Pasuruan.
Pasuruan sudah mengenal gaya hidup sosialita sejak
awal menjadi kota. Pada tahun 1855, di Kota Bawah terdapat asosiasi bernama
"Vereneeging Genoegen is ons doel," yang berarti "Kesenangan
adalah tujuan kami." Asosiasi ini kemudian digantikan oleh "Sociëteit
Harmonie." Namun, informasi tentang asosiasi sebelumnya tidak banyak
diketahui. Club house lama ini, yang ditinggalkan pada tahun 1859, memiliki
lebar depan 54 meter, panjang 24 meter, serta sayap sepanjang 46 meter. Gedung
tersebut dilengkapi berbagai aula, termasuk ballroom dengan lantai kayu.
Beberapa anggota mengusulkan proposal untuk
mengumpulkan dana guna membangun gedung baru. Usulan ini disetujui oleh
mayoritas anggota. Pembangunan gedung, yang memerlukan biaya besar, didukung
oleh Gerrit Lebret, seorang pemilik dan pengelola pabrik gula Kedawoeng.
Dukungan paling signifikan datang dari Residen Pasuruan sekaligus Presiden
Asosiasi, Mr. C.P.C. Steinmetz, yang menjabat sejak Juni 1855. Berkat
kebijaksanaannya, beliau tidak hanya berhasil menggalang dukungan dari berbagai
pihak, tetapi juga menyelesaikan konflik yang ada, sehingga melahirkan
"Harmonie."
Asosiasi "Societeit Harmonie" resmi dibentuk
pada tanggal 20 Juni 1857. Setelah asosiasi baru ini berdiri, gedung lama yang
terletak di area rawa-rawa dan tidak sehat mulai ditinggalkan. Pada tahun yang
sama, diputuskan untuk membangun gedung baru. Proyek pembangunan ini
dipromotori oleh Mr. C.P.C. Steinmetz, yang tinggal di Pasuruan saat itu.
Asosiasi ini sangat berterima kasih atas dukungan finansial dan moral yang
diberikan olehnya. Selain membantu pembangunan gedung baru, ia juga berperan
dalam pemasangan instalasi pipa gas untuk lampu penerangan oleh pabrik Bromo.
Gedung baru ini dirancang dan dibangun oleh seorang arsitek bernama Motta, yang
diketahui tiba di Pasuruan pada April 1856 dan menginap di Marine Hotel setelah
datang dari Probolinggo. Motta juga pernah bertugas sebagai arsitek di Gresik
pada tahun 1869.
Dalam proses pembangunan gedung membutuhkan biaya
sebesar 80.000 Gulden, dengan sebagian dana berasal dari empat hipotek senilai
24.000 Gulden yang diambil dari panti asuhan di Soerabaia. Gedung
"Societeit Harmonie" diresmikan pada tanggal 5 Februari 1858 oleh
istri Mr. C.P.C. Steinmetz. Pada 7 Agustus 1859, Gubernur Jenderal Hindia
Belanda, Charles Ferdinand Pahud, mengunjungi gedung tersebut untuk melihat
keindahannya sekaligus menilai penerangan umum lampu gas di Pasuruan. Berkat
kebijaksanaan Mr. Steinmetz, perselisihan yang sempat membagi penduduk Pasuruan
menjadi dua kelompok berhasil diselesaikan. Nama "Harmonie"
diperkirakan digunakan sebagai simbol persatuan dan persaudaraan.
Antara tahun 1862 hingga 1874, tercatat masyarakat
memiliki hingga 16 presiden. Namun, perdamaian baru tercapai pada tahun 1874,
saat kepemimpinan dipegang oleh Mr. Lowe. Ia menyusun aturan yang baik sehingga
menciptakan stabilitas dan perdamaian di antara anggota dewan. Dalam berbagai
acara nasional dan kegiatan lainnya, biaya perayaan biasanya ditanggung oleh
anggota. Anggota cukup murah hati dalam mendanai pesta, tetapi untuk keperluan
seperti perbaikan, pembelian meja biliar, atau furnitur, dana seringkali
dikumpulkan lebih cepat melalui lotere, obligasi, atau pinjaman tanpa bunga.
Salah satu "Lotere Emas" pernah diadakan pada tahun 1866 dengan total
hadiah mencapai 150.000 Gulden, dan lotere terbesar konon mencapai 500.000
Gulden.
Dewan asosiasi "Societeit Harmonie"
bertanggung jawab mengorganisasi hampir semua pesta, pertunjukan, dan kebutuhan
seniman. Mereka mendapat dukungan dari asosiasi teater "Liefde tot
Harmonie" (Cinta untuk Harmoni), yang aktif dari tahun 1860 hingga 1907.
Asosiasi ini menggelar banyak pertunjukan, terutama pada tahun 1886 saat Mr.
Valette, seorang pecinta drama dan opera yang antusias, menjabat sebagai
sekretaris daerah Pasuruan.
Antara tahun 1899 hingga 1918, asosiasi hanya dipimpin
oleh dua presiden, yaitu Mr. Kobus, Direktur Proefstation yang terkenal, dan
penggantinya, Mr. J.A. van Haastert, yang terpilih sebagai anggota dewan sejak
1898. Setelah Mr. Kobus wafat pada 1910, Mr. van Haastert melanjutkan
kepemimpinan hingga pensiun pada akhir 1918, saat ia diberi gelar anggota
kehormatan. Kedua presiden ini sangat berjasa dalam membimbing asosiasi
melewati masa-masa sulit secara finansial.
Pasuruan, yang sempat mengalami penurunan, mulai
berkembang pesat berkat hadirnya pabrik mesin Bromo dan Proefstation. Sejak
1920, beberapa bank seperti Handelsbank, Stroo-dan Blauwhoedenveem membuka
kantor di kota ini, dan Pasuruan kembali menjadi kota yang makmur dengan banyak
penduduk Eropa. Kemajuan ini juga tercermin dalam kehidupan sosial
masyarakatnya. Pasuruan kembali menjadi pusat kemakmuran, dan suasana itu
berdampak positif pada kehidupan sosial. "The Harmony" kini merayakan
kegembiraan, dan ada banyak alasan untuk merayakan ulang tahun ketujuh puluh
dengan penuh sukacita.
Dikenal sebagai "Soos Harmonie" atau
"De Soos in Pasuruan," Soos Harmonie merayakan ulang tahun ketujuh
puluh pada 31 Maret 1928. Presiden asosiasi, Mr. Schooleman, memberikan pidato
singkat tentang sejarah Soos dan mengumumkan bahwa Mr. J.A. van Haastert, yang
menjadi anggota sejak 1886 hingga 1898 dan kembali pada 1918, diangkat sebagai
anggota kehormatan dewan. Selain itu, Mr. H. Morbeck, pemilik Hotel Morbeck dan
tokoh populer Soos yang bergabung sejak 1892, juga diberi gelar anggota
kehormatan. Tentu saja, setelah acara tersebut diadakan "bola
setelahnya" (pengundian lotere). Mungkin inilah alasan mengapa masyarakat
setempat menyebutnya sebagai "Rumah Bola," karena sering digunakan
untuk pengundian lotere, atau bisa juga karena adanya permainan biliar di sana.
Gedung ini juga menambah fasilitas olahraga
"Kegel" atau "Kegelen," yang sekarang lebih dikenal dengan
nama "Bowling." Pada masa itu, Kegelen adalah olahraga yang sangat
populer dan konon sudah ada sejak zaman Mesir kuno. Fasilitas baru ini dibuka
pada 14 Maret 1936 oleh Asisten Residen Pasuruan, Dr. C.G.E. De Jong.
Pembangunan arena Kegel ini diawasi oleh KAR Hirch, sementara JW Dorpema
bertanggung jawab untuk membuat "Pin Kegel" dari kayu Jawa, Bengkel
Konstruksi "de Bromo" membuat bola, dan WJ Mans mengatur landasan
lemparannya. Arena Kegel serupa juga dapat ditemukan di Probolinggo, Malang,
Surabaya, dan kota-kota lain di Indonesia. Kemungkinan, fasilitas Kegel ini
sudah ada sebelumnya di Societeit Harmonie, karena arena ini bisa dibuat baik
di dalam maupun di luar ruangan, hanya membutuhkan landasan lemparan dari kayu
sederhana. Klub Kegel Pasuruan yang bernama "Houdt Baan," yang sudah
lama tidak aktif, sepertinya dihidupkan kembali dengan pembukaan arena baru
ini.
Soos di Pasuruan menyimpan banyak kenangan indah.
Berbagai pesta besar telah dirayakan, dan di sore hari, orang dapat menemukan
sudut yang tenang untuk merenung, meresapi suka dan duka kehidupan tropis.
Selain berfungsi sebagai lembaga sosial, Soos sering menjadi tempat
perlindungan bagi banyak orang Barat yang merasa kesepian. Perlindungan di sini
bukan untuk melupakan kehidupan melalui minuman keras yang berlebihan, tetapi
untuk merasakan ketenangan di jam-jam sunyi dalam suasana yang nyaman dan bermanfaat.
Banyak orang yang dalam perjalanan dari Surabaya menuju daerah tapal kuda
(Oosthoek) di bagian timur Jawa, baik siang maupun malam, selalu menyempatkan
diri untuk singgah di De Harmonie, beristirahat, dan merasa segar kembali.
Budaya ngopi dan cangkrukan hingga pagi masih menjadi
kebiasaan umum di Pasuruan hingga saat ini. Ada sesuatu yang sulit dijelaskan
tentang klub ini, dengan banyak kenangan indah yang terkait dengan gedung Soos
di Pasuruan. Sejarah klub ini pun ditulis dalam majalah "Klub
Kroniek" pada perayaan ulang tahun ke-70 pada 31 Maret 1928, karena banyak
pembaca yang masih mengenang "Harmonie" dengan penuh rasa syukur.
Selama periode pasca-perang (1945-1947), banyak orang Belanda di bekas Hindia
Belanda dipenjarakan di kamp-kamp bekas Jepang, kamp penerimaan, atau kamp
Republik. Setiap kamp dicatat dengan informasi penting, seperti lokasi,
transportasi masuk dan keluar, peta, foto atau gambar, serta literatur terkait,
dan beberapa kamp memiliki daftar nama penghuni.
Pada masa awal kemerdekaan, gedung Sociëteit Harmonie
di Pasuruan digunakan sebagai kamp transit untuk 136 anak-anak dan wanita
Belanda selama masa "Bersiap." Mereka dipindahkan dari Chinese School
(Sekolah Sang Timur) pada 10 September 1946 dan kemudian dievakuasi ke Batavia
pada 10 Oktober 1946. Setelah Indonesia merdeka, masyarakat mengubah fungsi
gedung Sociëteit Harmonie. Karena letak dan desain bangunannya cocok untuk
pertahanan, pada tahun 1947 gedung ini diubah menjadi markas TRIP (Tentara
Republik Indonesia Pelajar), sebuah kesatuan militer yang terdiri dari pelajar
usia 15 hingga 20 tahun yang ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan
Indonesia. TRIP dibubarkan secara resmi pada awal 1951 dalam sebuah upacara
demobilisasi, dan anggotanya menerima penghargaan dari Pemerintah RI. Dengan
demikian, gedung Sociëteit Harmonie yang sebelumnya menjadi markas TRIP,
otomatis tidak lagi digunakan sebagai markas.
Setelah perang kemerdekaan, pada sekitar tahun
1960-an, gedung ini diubah menjadi "Gedung Trikora" atau "Gedung
Rakyat," yang berfungsi sebagai tempat pertemuan dan pertunjukan kesenian
rakyat. Dulu, gedung ini hanya digunakan oleh kalangan Eropa dari kelas atas,
pejabat, pengusaha, dan priyayi sebagai anggota klub eksekutif. Namun, setelah
perubahan tersebut, gedung ini mulai dinikmati dan dimanfaatkan oleh seluruh Masyarakat.

Komentar
Posting Komentar